Aku Ingin Denganmu Adek

Namaku Bani, aku sulung dari dua bersaudara. Nama adikku Novi, kami berdua cuma terpaut satu tahun usianya. Kami tidak terlalu akrab semenjak remaja, sibuk dengan kesukaan dan hobi masing, jadi komunikasi hanya seperlunya saja. Tak pernah kami curhat atau membicarakan masalah pribadi. Apalagi semenjak kami kuliah dikota yang berbeda. Aku merantau jauh ke Malang, sedangkan adikku hijrah ke universitas yang tak begitu ku kenal di Banten sana. Orangtua kami beruntung karena aku dan Novi sama-sama lulus tepat waktu, empat tahun, jadi tak perlu mengeluarkan biaya tambahan yg membebani keuangan mereka. Sejujurnya keluargaku bukan kalangan berkecukupan, ayahku hanya PNS di Dinas Kebersihan, sedangkan mama membuka warung nasi kecil-kecilan di garasi rumahku yang disulap menjadi tempat makan. Fakta bahwa kami berdua bisa menjadi sarjana cukup membuat kedua orangtuaku bisa membanggakan kami di antara para tetangga dan keluarga besar. Namun sayangnya kebanggaan itu tak bertahan lama, setelah aku lulus menyelesaikan study, aku kesulitan mendapatkan pekerjaan. Padahal sebagai sarjana ekonomi, nilaiku cukup memuaskan. Papa dan Mama mencoba membesarkan hatiku dan memintaku sabar. Namun sampai Novi lulus aku masih menganggur. Disinilah semuanya dimulai, sekian lama aku tak jumpa dengan Novi, aku menyadari keadaan fisiknya berubah. Adikku yang dulunya ceking tak menarik kini kulihat bertambah padat berisi, tonjolan payudaranya lebih nampak, dan pantatnya bertambah montok. Aku sendiri sungguh kaget dengan perubahan tubuh Novi, terakhir kali aku bertemu dengannya saat libur lebaran dua tahun yang lalu. Due lebaran terakhir aku memutuskan untuk tidak pulang, yang pertama karena aku sibuk ikut semeseter pendek dan yang kedua aku fokus dengan bahan penelitian skripsiku yang kebetulan harus kuteliti di Surabaya, jadilah aku baru menyadarinya saat ini. Tepatnya saat kami sekeluarga mampir ke kostan adikku untuk menghadiri wisudanya. Saat itu Novi yg hanya memakai daster berlengan terbuka, belahan dada rendah dan selutut cukup membuat kakak kandungnya melongo dan horny. Aku benar-benar dibuat terpana oleh perubahan fisiknya. Padahal parasnya ku akui biasa saja, warna kulitnya pun sawo matang, andai saja tonjolan payudara dan bongkahan pantatnya tak semenggoda itu pastilah adikku menjadi biasa saja. Untungnya dalam keseharian dikampus, adikku memakai jilbab dan berpakaian kemeja sopan. Walau kadang memakai rok panjang, Novi lebih sering memakai celana jeans.
Ketika dia pulang dan kami kembali dirumah bersama, adikku selalu memakai pakaian yang membuat lekukan tubuhnya tampak tercetak sempurna, entah dia memakai daster, celana olah raga pendek serta kaus oblong, apalagi kalau cuaca panas dia cuek memakai tanktop. Benar-benar menyiksa birahiku. Aku ingin sekali memperingatkannya untuk berpakaian lebih longgar karena aku juga laki-laki normal yg mudah terangsang, tapi disatu sisi aku tak ingin kehilangan pemandangan ini. Bahkan seminggu setelah kepulangannya Novi, aku mulai menjadikannya sebagai bahan fantasyku untuk beronani. Baru tersadar betapa luarbiasanya berfantasi dengan saudara sekandung sebagai objeknya, sensasi yang tercipta sungguh berbeda. Tubuh adikku benar-benar menggoda.

****

Kejadian ini bermula ketika aku pulang malam dari rumah temanku. Yah namanya juga pengangguran, aku jenuh dirumah terus. Panggilan interview terakhir sudah lewat seminggu, dan aku belum mendapatkan kabar baiknya, atau panggilan baru lainnya. Jadi untuk membunuh waktu dan kebosanan aku sering main kerumah kawan-kawan SMA ku.
Malam itu aku pulang pukul dua malam, selesai memarkirkan motor diteras, mengunci pagar dan pintu rumah aku langsung naik ke kamarku dilantai dua. Fyi, dilantai dua hanya ada balkon tempat ibuku menjemur pakaian, tempat nonton tv untuk aku dan Novi karena di ruang tv utama pasti dikuasai ibuku, komputer, kamar mandi serta kamarku dan Novi. Kalau ingin ke kamarku harus melewati kamar Novi karena kamar kami berhimpitan, kamarku menghadap balkon. Aku menempati kamar ini karena waktu kecil Novi takut ada hantu yang muncul di jendela tersebut, jadilah aku diberikab kamar ini.
Malam itu aku ingin segera tidur dan mimpi indah, namun langkahku terhenti ketika melewati kamar Novi, tampak dia lupa menutup pintu kamarnya. Yang membuatku terkejut adalah Novi tidur membelakangi pintu dengan daster tersingkap sehingga bongkahan pantat dan pahanya kini terlihat jelas. Walau dalam kondisi keremangan kamarnya, namun cahaya yg masuk dari ruang tv atas ini cukup untukku melihat dengan jelas pantat dan pahanya. Jakunku naik turun, jantungku berdebar, nafasku tak beraturan, aku ingin melihatnya lebih jelas dan dekat. Tak perlu lama-lama dalam keraguan atau pergulatan batin, sudah jelas birahi yang menang. Pelan-pelan aku mencoba masuk ke kamar adikku, tanganku membuka pintu lebih lebar agar aku bisa masuk. Suara derit pintu sempat membuatku takut membangunkan Novi, untungnya dia masih terlelap. Aku melangkah pelan, jantungku semakin berdebar, hingga akhirnya aku berdiri disamping tempat tidurnya. Adikku masih tertidur memeluk guling membelakangi ku, dia tampak agak berkeringat, walau kipas angin sudah berhembus namun tampak ya cuaca malam ini cukup panas, aku akui itu.
Kini tampak dihadapanku bongkahan pantat adikku, cd nya yang berwarna merah menutupi bibir vaginanya. Aku bengong memandang pahanya, aku tak menyangka paha Novi begitu mulus.
Tak tahan lagi aku mencoba ingin memegangnya, saat itu aku benar-benar lupa kalau wanita yang sedang tidur itu adalah adik kandungku.
Aku mulai dengan telunjukku yang kuarahkan pada pahanya, hati-hati takut dia terbangun dan ah! Aku menyentuh paha adikku, dia tak bereaksi, lalu jari-jari lain menyusul telunjukku yg lebih dulu mendarat dipahanya, dan mulai mengelus-elus pelan. Amboii, paha adikku benar-benar halus. Aku mau lebih menikmatinya, kini aku memberanikan diri duduk dibibir ranjangnya, lalu mulai meremas pelan bongkahan pantatnya yang masih tertutup cd merah. Ssstthhh! Tak hanya kelihatannya, pantat adikku benar-benar daging padat yg aduhai. Aku terus meremas pantat adikku pelan, tak tahan lagi aku membuka resleting celanaku dan kukeluarkan batang penisku, aku mulai onani sambil melihat langsung objeknya, benar-benar luar biasa, aku sungguh menikmatinya. Aku benar-benar dibuai birahi, mengikuti nafsu kini tanganku mulai beranjak dari pantat kebelahan bibir vaginannya, namun baru sebentar aku meraba bibir vaginanya dan belum sempat aku menikmatinya, adikku mengubah posisi tidurnya dan membuatku kaget setengah mati. Aku langsung bangkit dan ngacir keluar dengan celana belum kupakai dan onani yang belum kutuntaskan

Semenjak kejadian itu, aku benar-benar semakin berhasrat pada adikku. Ada saja alasanku untuk selalu berada didekatnya agar bisa menikmati lekuk tubuhnya. Saat dia sibuk memasak, aku pura-pura merokok dimeja makan dan menikmati goyangan pantatnya dari belakang. Saat dia menyiram bungapun aku ikut duduk diteras, berharap dapat sekilas melihat belahan dadanya saat dia membungkuk merawat tanaman kami. Yang paling aku suka adalah saat-saat aku beronani dengan melihat Novi secara langsung ketika adikku asik menjemur pakaian dibalkon, biasanya dia hanya menggunakan daster tipis sehingga menambah aura sensualitasnya menurutku. Birahiku semakin terbakar, aku ingin menjamah tubuhnya seperti malam itu, namun sayangnya Novi tak pernah lagi lupa menutup serta mengunci pintunya. Aku hanya bisa menahan hasrat yang sudah demikian membara membara. Hingga akhirnya kesempatan itu datang juga.
Pagi itu hujan deras mengguyur kotaku, aku bangun telat. Saat turun adikku sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi, seperti biasa akupun langsung duduk dimeja makan untuk memandangi tubuhnya dari belakang. Ayahku pasti sudah berangkat kerja, sedang ibuku dia sedang diluar kota menjenguk tante Risa yang baru melahirkan anak keduanya.
“baru bangun kak?” basa-basi adikku saat melihatku duduk dan menyalakan rokok dimeja makan.
“iya dek. Masak apa kamu?”
“Nasi goreng aja ya kak?”
“boleh” kataku.
Aku benar-benar menikmati setiap aktivitasnya saat memasak. Apalagi ketika tubuhnya berguncang-guncang waktu memotong sayur dan mencincang daging. Walau saat itu adikku memakai baju olahraga lengan dan celana panjang, namun lekukan tubuhnya tetap nampak jelas. Pagi itu memang dingin, namun sekujur tubuhku sudah panas oleh api birahi, hingga dengan kondisi setengah sadar aku nekat memeluk adikku dari belakang, hap!
Sesaat aku mendaratkan kedua tanganku pada perutnya, menyadarkan daguku pada bahunya serta yang paling terasa adalah ketika batangan penisku dibalik boxer ini menyentuh bongkahan pantatnya.
Adikku sendiri langsung terpekik kaget menerima perlakuanku.
“iih kak. Apaan sih peluk-peluk” kata Novi menjatuhkan pisau ke westafel sambil meronta mencoba melepaskan diri dari pelukanku.
Aku sendiri benar-benar dikuasai nafsu, nafasku tak beraturan.
“Maafin kakak Dek. Kakak sayang sama kamu” kataku sambil mencoba mempererat dekapan tubuhku padanya.
“iiih, apaan sih kak. Udah lepasin aku!” adikku masih mencoba melepaskan dirinya dariku.
“kakak cuman mau meluk kamu kok dek. Kakak sayang sama kamu”
“iih.. Ya ga usah pake peluk-peluk aku segala kan, risih tauu.. Udah kak lepasin aku!!”
Nampaknya Novi belum menyadari niatku dan nafsuku padanya.
“Nov.. Uuh” tanganku mulai naik meraba payudara sebelah kanannya. Kali ini adikku benar-benar terkejut.
“Kak!!! Ngapain kamu!!” kali ini Novi benar-benar naik darah, dia langsung meronta keras dan menepis tanganku pada dadanya.
“kak, kamu kenapa sih!! Lepasin, lepasin aku!!” sambil tangannya berontak dan kakinya menendang-nendang kesegala arah. Pasti adikku mulai merasa tak nyaman.
Aku juga tak mau kalah, nafsu yang sudah mengendalikanku benar-benar membuatku gelap mata. Tanganku terus mendekap tubuhnya erat sambil membalikan tubuhnya cepat, dalam kesempatan itu langsung aku daratkan bibirku pada bibirnya dan..
“kak! eehmm!!!” pekiknya saat bibirku mengecup bibirnya. Saat aku menciumnya, perlawanan sempat berhenti sesaat, tak sampai dua detik dia kembali berontak, kepalalnya dia geleng-gelengkan demi menghindari ciumanku.
“kak, aku gak mau. Lepasin aku kak!” Novi mulai berteriak, aku tak perduli, siapa yg bisa mendengar teriakannya dalam suasana hujan deras seperti ini.
Sulit menjangkau bibir Novi, ciumanku turun kelehernya, aku menghirup aroma tubuhnya dan benar-benar seperti bensin yg semakin membakar hasratku.
Novi masih meronta-ronta dalam dekapanku, aku pepet tubuhnya ke meja makan dan langsung aku tindih tubuhnya.
“kakaaak!! Bajingan!! Lepasin aku sekarang!!” Rontaan Novi benar-benar spartan dan merepotkanku, sedikit kesal aku tampar pipinya.
Plak!!! Adikku shock, rontaannya tertahan.
Plak! Plak! Kutampar dia dua kali lagi untuk memastikan rontaannya melemah dan benar saja, Novi langsung terdiam, namun dia menangis pelan, dapat kulihat air matanya mulai turun dari ujung matanya. Aku sudah benar-benar kalap.
Melihat kesempatan ini langsung saja aku mencium bibirnya, adikku diam saja, tangisnya mulai tersedu-sedu. Aku bisa merasakan basah air matanya pada wajahku yg sedang mengecup bibirnya. Tangankupun mulai bebas bergerilya, aku meremas-remas kedua buah dadanya yang masih tertutup kausnya.
“eehhmm.. Ehmmm.. Uuuhhhuuuh” adikku mendesah diantara tangisnya. Tanganku mulai menelusup kebalik bajunya dan mulai meremas dadanya yang masih tertutup cup BH. Diluar angin masih mendesau dalam gelap dan derasnya hujan. Udara sangat dingin sebenarnya, tapi tubuhku merasa panasnya api gairah, dan kini mendapati tubuh adikku yang sudah tak melawan.
Aku melepaskan ciumanku pada mulutnya, kini kutatap wajahnya yg menatapku nanar, pipinya merona merah karena tamparanku. Aku jadi sedikit iba
“maafin kakak dek, tapi kakak gak bisa nahan lagi” kataku berbisik ditelinga kanannya
“badan kamu bagus, kakak pengen ngerasain badan kamu.. Sayang”
Mendengar perkataanku air mata mengalir semakin deras dari kedua sudut matanya, suara tangisnya semakin pilu, namun tetap tak cukup baik menjangkau nuraniku, setan masih cukup menguasaiku. Setelah aku berbisik, aku menjilat pipinya yg tadi kutampar demi meredakan perlawanannya. Aku menjilat lembut seperti menjilati eskrim, lembut sambil perlahan turun ke lehernya.
Tanganku masih aktif meremas kedua buah dadanya, mulai bosan terhalang bh Novi, aku singkapkan baju dan bh nya. Novi sempat menolak pelan, tangannya kembali mencoba berontak walau tanpa tenaga
“kak Bani, jangan kak. Pliss.. Jangan. Eehhmmmhhh”
Aku langsung menyumpal mulutnya dengan bibirku, tangankupun dengan sigap menyingkap baju dan bh’a dan tak perlu waktu lama untuk menelanjangi tubuh bagian atasnya, kendati bajunya masih melekat dileher Novi, namun buah dadanya kini bebas untuk kunikmati. Tanpa membuang waktu langsung saja kuremas-remas buah dadanya yg ranum.
“eehhhmm.. ” adikku menjerit tertahan ketika tanganku meremas-remas buah dada dan mempermainkan putingnya. Ketika kulepas ciumanku, wajah Novi tampak meringis menahan geli. Aku sendiri terbelalak melihat buah dada Novi, kendati tak terlalu besar kutaksir hanya 32B namun tetap indah dan sedap dipandang. Putingnya yang coklat muda menambah keindahan payudaranya. Tak kuasa aku menahan untuk segera menjilat dan mengulim puting payudara Novi.
“uuhh!!! Ooh!! Ehhk!” Adikku menjerit kecil dan tubuhnya berguncang ketika dadanya kujilati dan kupermainkan. Kulihat dia menutup mulutnya dengan tangan kanan untuk menahan teriakan, sedangkan tangan kirinya tampak meremas bibir meja makan.
“ehh.. Ehhhk.. Kak.. Jangandht.. Kakh.. Oh” Adikku mulai mendesah, tubuhnya mulai bergelinjang.
Aku sendiri benar-benar menikmati sensasi lidah dan bibirku pada kulit serta puting payudra adikku.
Batang penisku sudah sangat tegang dibalik boxerku, akupun segera membebaskannya dengan melepas boxer serta celana dalamku. Lalu tanpa membuang waktu aku segera mencoba melepas celana traing adikku. Lagi-lagi Novi mencoba berontak, kakinya menendang-nendang pelan saat celananya sudah kupelorotkan sampai paha.
“kak, udah kak. Plis jangan. Udah kak aku mohoon!! ” kata Novi dengan suara bergetar menahan tangis
Lagi-lagi mulutnya aku bungkam dengan mulutku, lalu tangan kiriku memilin puting payudaranya, cukup efisien untuk membawa kembali adikku larut dalam permainanku. Dan tanpa hambatan kini celana training dan cd Novi sudah lolos dari tubuhnya, tanpa membuang waktu langsung aku arahkan batang penisku ke miss v nya. Seperti tersengat listrik, kini novi mulai kembalk meronta hebat.
“Kak udah cukup kak. Aku gak mau!!”
Aku mencoba menahan rontaannya lagi.
“kak jangan begini kak. Gak boleh!! Kita ini kakak adek! Kak Bani pliss” sambil tangannya mencoba menjauhkan tubuhku dari tindihannya. Namun apa daya tenagaku jauh lebih kuat dari tenaganya, sekali lagi kutampar Novi agar dia diam.
Plak!!
“aaah!!” Novi berteriak. Lalu kembali menangis.
Kesempatan yang tidak kusiakan, langsung saja batang penisku kutempelkan kebibir vaginanya. Ternyata adikku sudaj basah, tak kusangka permainanku pada payudarnya sudah cukup membuatnya basah. Tak ingin membuang waktu lagi aku menekan pinggulku, aku bersiap memecahkan keperawanan Novi adik kandungku, dan
Slep!! “ooorggghh!!”
Adikku berteriak saat batang penisku masuk kerubuhnya. Namun aku sendiri tak kalah terkejutnya, penisku masuk dengan lancar tanpa ada suatu penghalang. Adikku sudah tidak perawan!!

Aku mendiamkan penisku beberapa saat didalam vagina Adikku. Novi sendiri kini pasrah, tampaknya dia dikuasai rasa shocknya menerima benda asing didalam tubuhnya. Dia hanya bisa menangis lirih dengan mata terpejam, air matanya telah deras membasahi wajahnya.
Dinding vagina adikku terasa berkedut memijit batang penisku, aku merasa sensasi kehangatan yang luar biasa.
Aku mulai memaju mundurkan pinggulku memompa tubuh adikku, membuat tubuh Novi berguncang naik turun seirama dengan pompaanku. Tangan kanan adikku menutup mulutnya mencoba, sedangkan kirinya mencengkeram bibir meja. Rintihan adikku masih terdengar dari mulutnya yg tertutup.
“ergh.. Erghh… Erghh… ”
Aku masih asik memompa pinggulku. Vagina adikku sungguh terasa dahsyat, tanganku sendiri mulai bergerilya menjelajahi gunung kembar didadanya. Ouuh, nikmat sekali, penisku dimanjakan oleh kedutan dinding vaginanya, sedangkan tanganku dipuaskan oleh empuk dan indahnya payudara serta puting adikku. Aku merasa dalam kenikmatan dunia, belum lagi sensasi yang ditimbulkan dari fakta bahwa yang kugenjot sekarang adalah adikku, melihat tubuh setengah telanjang Novi naik turun dalam persetubuhan terlarang ini menambah bara gairahku.
Tangis Novi sendiri perlahan lenyap, berganti desah kecil yang nampaknya masih berusaha ditahannya. Namun tangan kanan yg tadinya menutup mulutnya kini meremas bahuku. Matanya terpejam menoleh kesamping kiri, tapi raut wajahnya tak bisa membohongi bahwa dia sedikit mulai menikmati ini.
“eeghh.. Errghh.. Ehhh.. Kakh.. Kaaakh. bannhi.. Udah.. Stoophh.. Oohh”
Aku sendiri masih larut dalam nikmatnya tubuh Novi hingga akhirnya ujung penisku mulai terasa panas.
“zzh.. Ohh. Tangguhgh dekh, kakak mau sampai nich.. Orgh”
Tak sampai satu menit ketika adikku mengejan, pinggulnya terangkat hingga kurasakan cairan hangatnya keluar.
“ooogghhh.. Kakakhhh.. Zzzhhh” racau Novi sambil mengangkat tubuhnya, kepalanya mendongak keatas dan kedua tangannya mencengkeram bahuku dan kedua pahanya menjepit pinggulku. sayangnya cairan ini juga memicu orgasmeku hingga aku tak sanggup menahan diri dan tak sempat melepaskan penisku dari vaginanya, akhirnya aku sampai sesaat setelah adikku orgasme.
“ooooh, dek..!! Kakakh juga keluarr..” lenguhku sambil mendekap tubuh adikku erat..
Aku mengeluarkan spermaku dalam tubuh Novi, aku hanya bisa berharap ini bukan masa suburnya.
Perjakaku telah kuberikan seutuhnya pada Novi, tapi pertanyaanku ditangan siapa perawan Novi hilang..

Aku dan Novi terengah-engah diatas meja makan. Tubuhku masih rebah diatas tubuhnya, penisku pun masih bersarang dalam jepitan vaginanya, walau perlahan ku rasakan mulai mengecil. Waktu itu aku menyemprotkan cukup banyak sperma dalam sekali orgasme pada vagina adikku.
Setelah agak lama nafas kami mulai teratur, dan Novi mulai menangis lirih. Wajahku yg tadi ada disebelah kepalanya bangkit dan menatap wajahnya, rona wajah Novi menyiratkan kepedihan dan kesedihan, dia nampak shock bahwa aku kakaknya baru saja memperkosanya. Air matanya mengalir deras, kedua tangannya yg tadinya memegang bahuku menutup mulutnya menahan suara Tangisnya.
Rasa bersalahku sendiri mulai muncul, namun harus aku akui ternyata tubuh adikku benar-benar nikmat, payudaranya mengkal seperti yang aku bayangkan, dan dinding vaginanya rapat, sungguh tubuh ideal untuk seorang wanita menurutku.
Aku perlahan bangkit dan melepaskan penisku dari vaginanya, lalu duduk dikursi membiarkan Novi yg masih menangis dimeja makan.
“Dek, maafin kakak ya.. Kakak khilaf”
Kataku sambil membelai rambutnya. Novi tidak menjawab, dia masih menangis, dia mencoba menghindariku dengan memutar tubuhnya yg tadinya telentang menjadi membelakangiku hingga kini pantatnya yang montok tersaji didepanku. Melihat pantat adikku yang tempo hari sempat menghantui birahiku, tanpa sadar penisku bangkit lagi. Gila, padahal belum dua menit aku beristirahat, sungguh setiap jengkal tubuh adikku seolah bara yang membakar gairah laki-laki, tak peduli siapapun itu. Aku siap memulai ronde kedua, setelah melepaskan baju yang masih melekat pada tubuhku aku bangkit kembali menghampiri adikku, Novi sendiri masih menangis sesenggukan, dia tidak menyadari bahwa kakaknya kembali dikuasai nafsu. Perlahan-lahan aku mengarahkan lagi penisku pada vaginanya, tubuh Novi yg berbaring membelakangiku dengan posisi tangan yg memeluk tubuhnya sendiri seperti orang kedinginan dan kaki yang ditekuk kedepan membuat vaginanya tak terhalang apapun hingga akhirnya “bless”
Penisku langsung masuk dengan mulus, vagina Novi masih basah mempermudah penetrasiku.
Adikku sendiri langsung kaget menerima serangan keduaku yang tak kalah mendadaknya dengan serangan pertama, dia serta merta memutar tubuhnya dan mencoba meronta lagi.
“aaakkhh.. Kak Bani!!! Gak lagi kak!!!”
Kali ini dia berteriak, namun posisiku yg menggenjotnya dari belakang sudah sedemikian mantap, apalagi tanganku kali ini langsung meremas kedua payudaranya dari belakang.
“ooughzz.. Dekkh.. Enak bangeth kamuhh..” aku melengguh ditelinga Novi dari belakang sambil terus menggenjotnya, adikki masih menangis, namun desahan dan jeritan kecil mulai terdengar dari mulutnya.
“ooughgh.. Shitzzz.. Oohh.. Kamuhh.. Bajh.. Inganh.. Kakkhh.. Oohhgg” racau Novi. Tangannya kini memegang kedua tanganku yg meremas-remas buah dadanya, tampak dia mulai menikmati persetubuhan ini.
Aku sendiri juga merasakan kenikmatan dahsyat dari jepitan vagina Novi, dindingnya berkedut-kedut mengurut batang pensiku. Dahsyat sekali sensasinya.
Aku mencoba mengubah posisi, aku bangkit sambil membawa tubuh Novi, kali ini adikku pasrah tak melawan hingga sekarang aku duduk dipinggir meja makan dan adikku duduk pada pangkuanku, aku ingin menggenjot vaginanya sambil merasakan montoknya pantat Novi pada pahaku dan tetap memainkan payudaranya.
Saat tiba pada posisi yang kumau, aku mulai menyodok lagi. Sensasi baru kembali timbul, luar biasa melihat tubuh adik sendiri bergelinjang dan berguncang-guncang dalam dekapan tubuh dan genjotan penisku. Tangisnya tak lagi terdengar, berganti racauan dan lenguhan tanda adikku mulai menyukai hubungan intim tabu ini.
“oough.. Oughh.. Kakhhzz.. Ouh.. Ouhh”
Aku jadi gemas hingga tanganku mendorong pipi adikku agar dia menoleh kebelakang lalu kupagut bibir ranumnya, kali ini Novi membalas ciumanku pada bibirnya, ketika aku mencoba memasukan lidahku pada mulutnya, lidahnya menyambut lidahku hingga lidah kami menari bersama dalam mulutnya. Ouh, luar biasa. Sekujur tubuh kami saling memberi kenikmatan sensual, kami mencoba saling memuaskan. Hingga tiba-tiba Novi melepaskan pagutan kami lalu meracau. “oouggh kakkhh akuuuhh, mauuuhh kelhuar.. Ohhgg” katanya sambil tangannya meremas tanganku.
“bareng dekh, kaakakkhh keluarin didalem aja yah. Ouuh” kataku disela lenguhan nikmatku.
“yaahhzz,akuuh lagiih gakh… Ouuh.. Shuburr.. Ohh”
Sesaat setelah mengatakan itu, adikku langsung menaik turunkan tubuhnya sendiri, bahkan dia menggoyangkan pinggulnya bak penari dangdut mengocok penisku yang masih bersemayam pada vaginanya menimbulkan kenikmatan yang dahsyat padaku, hingga akhirnya tak sanggup lagi kutahan orgasmeku.
“Deekkhh, kakakhhj keluaarrrr.. Oohhhhh!!!”
Tubuhku mengejan sambil mengangkat pinggulku memuntahkan lahar sperma sebanyak yang aku bisa kedalam tubuh Novi adik kandungku.
Novi sendiri tak lama kemudian menyusul orgasmenya, dia juga berkelojotan diatas tubuhku dan mengejan beberapa kali sebelum tubuh kami berdua roboh dimeja makan dengan nafas terengah-engah dan banjir keringat.
Dapur dan meja makan inilah saksi persetubuhan terlarang antara aku dan Novi…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *