Berbagi Kamar Dengan Adik Perempuanku 2

BAB II

The 2nd Day

Aku masih terbayang jelas sekali kejadian semalam saat bersama adikku pagi ini ketika berangkat kuliah. Aku harus berbagi kamar dengan adikku ditta dikarenakan jendela kamarnya rusak karena hujan dua malam yang lalu. Kemarin, secara kebetulan kami berdua berhadapan dalam keadaan telanjang bulat di kamarku. Lalu tadi malam karena udara terasa dingin memaksa kami harus berbagi satu tempat tidur.

Apa yang terjadi di tempat tidur setelah lampu dipadamkan masih seperti mimpi. Kegembiraan, ketakutan, kehangatan dan rangsangan, semuanya terasa seperti sesuatu yang sepenuhnya diluar kebiasaanku, yang sehari hari hanya berkutat di kuliah, mobil, komputer, dan TV. Sesuatu yang bahkan tidak pernah terpikir akan mungkin benar-benar terjadi, namun aku mengingatnya dengan jelas sekali.

Aku melirik Ditta di kursi sebelahku. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun padaku sepanjang pagi saat kami bersiap untuk kuliah atau bahkan di dalam mobil, ini suatu hal yang tidak biasa. Aku bertanya-tanya apa yang diingatnya tadi malam. Apakah dia merasakan keraguan yang sama dengan ku? Apakah dia merasa malu karena kejadian semalam, atau bahkan mungkin menyesalinya? Mungkin ini mimpi baru buatnya, dan dia juga mungkin bertanya-tanya mengapa aku bertingkah aneh pagi ini? Aku mencoba menghilangkan kecemasan ku dan mempersiapkan diri untuk kuliah.

Hari ini adalah hari terpanjang kuliah buatku. Kelas demi kelas, aku menatap kosong pada dosen, buku, atau hanya menatap ruang kosong, memikirkan kejadian tadi malam. Aku tahu itu bukan mimpi, karena setiap detail terukir begitu kuat dalam otakku. Aku memikirkan berulang-ulang mengapa dia menekan peniskuku dengan pantatnya, merasakan kulitnya saat dia menarik tanganku ke kemeja piyamanya, penisku terjepit di antara belahan pantatnya, menarik tanganku ke dalam celana dalamnya, mengusapkan jariku masuk jauh ke dalam vaginanya yang basah, menikmati momen saat dia orgasme. Entah itu mimpi atau bukan, aku sangat menginginkan terjadi lagi.
Akhirnya bel terakhir berbunyi dan aku berlari keluar untuk menemui adikku , menjemputnya dan mengajaknya pulang ke rumah. Melihat dirinya berdiri menungguku di sana membuat jantungku berdegup kencang, dan aku harus cepat-cepat mengalihkan perhatianku agar tidak terlihat aneh di depan semua orang. Aku memalingkan muka darinya untuk mengalihkan perhatianku, dan melihat teman-teman lama Ditta, Merry dan Cindy, dan sekelompok gadis yg sedang tertawa.

Merry dan Cindy adalah teman dekat Ditta di SMA, tapi selama beberapa bulan pertama kuliah mereka, mereka mencampakkan teman mereka yang pemalu, Ditta, untuk bergabung dengan kelompok yang lebih populer. Sekarang aku melihat mereka, melihat Ditta sedang ditertawakan oleh mereka, dan melihat salah satu dari mereka membisikkan sesuatu padanya. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan, tapi itu membuat tawa kelompok itu semakin tinggi. Ditta hanya berdiri di sana dengan memunggungi mereka dan tidak menanggapi, tapi dia terlihat tegang seperti aku pernah melihatnya dan dia sedang menahan air matanya.

Aku berjalan mendekati Ditta seperti biasanya, berharap dengan kehadiranku entah bagaimana bisa meredakan ledekkan dari dua gadis yang baru saja melirikku. Kelompok itu hanya membisikkan beberapa hal satu sama lain dan terus tertawa. Kurasa aku juga bagian dari lelucon mereka sekarang.

“Ayo pergi,” kataku lembut pada Ditta, dan kami berjalan ke mobil.

Begitu kami agak jauh, dia mulai menangis. Aku tidak bisa memikirkan apa pun yang bisa dikatakan untuk membantunya merasa lebih baik, dan bahkan saat aku mencoba untuk berkata, yang terjadi adalah mataku malah lebih tertarik ke arah payudaranya dan berpikir kapan aku bisa menyentuhnya lagi.

Aku sadar. Ditta sedang mengalami masa-masa yang sangat sulit dan emosional dengan keadaan kamarnya yang berantakan dan kesepiannya di kampus. Yang dia butuhkan sekarang adalah teman dan pelindung, bukan orang yang mencoba melepaskan bajunya. Aku kemudian memutuskan bahwa aku tidak akan membuatnya melakukan hal lain, tidak peduli betapa aku menginginkan untuk mengulangi kejadian semalam.

Setelah sampai di rumah, kami memeriksa bagaimana keadaan kamarnya hari ini. Aku berharap agar dia segera bisa kembali ke kamarnya, dan itu mungkin bisa membantu menyelesaikan beberapa masalah yg di hadapinya, dan yang terpenting dapat menghilangkan godaan yang ada padaku. Saat kami membuka pintu kamar tercium bau yang tidak sedap di sebabkan oleh karpet lantai yg masih basah. Air hujan yang ada di kamarnya telah menyebabkan jamur. Ruangan itu tidak layak untuk dihuni sampai semua dibersihkan. Ibu bertanya jika kami bisa menemukan seseorang yang bisa membersihkan kerusakan dengan segera, diperlukan waktu cukup lama untuk seorang kontraktor mengganti karpet dan wallpapernya serta mengecat semuanya. Sampai saat itu, kami harus tetap satu kamar.

Kemudian ibu meminta kami berganti pakaian dan kemudian membantunya membereskan kamar Ditta.

“Kamu dulu aja dek yg ganti pakaian, aku membantu ibu dulu sebentar.” Tanpa berbicara dia lalu berbalikmenuju kamarku, tak berapa lama dia keluar telah berganti dengan pakain yg lebih santai, atasan kaus putih bergambar “Nike” yang panjangnya hanya kira kira 5cm di atas pusar dan bawahan legging hitam yang membalut kakinya dengat ketat.

Aku berusaha untuk tidak membayangkan apapun dan berlaku seperti biasa, aku tidak ingin ibu tahu kalau aku memperhatikan adikku.

“Dek, kamu bisa mulai dengan membereskan buku-buku di atas meja kamu, dan masukkan ke dalam dus-dus ini!” ibu memerintah.

‘Ya bu”

Aku kembali mencoba menyibukkan diri dan berusaha tidak memperhatikan adikku, tapi apa daya mata ini selalu mengarah untuk melirik dia. Ada sesuatu yang berbeda kulihat saat adikku bergerak mengambil buku-buku yang basah dan memindahkannya ke dalam dus-dus di bawah meja, ada sesuatu yang menarik perhatianku dan membuat mataku untuk selalu kearah itu. Sesuatu yang memantul setiap dia bergerak, yup…… aku dari tadi memperhatikan payudaranya. Terlihat sepertinya dia telah melepaskan bra nya, dan payudaranya yang cukup besar itu ikut bergerak memantul saat dia menunduk ataupun berdiri. AHH…. Pikiranku kembali pada saat tadi malam, saat aku bisa dengan bebas bermain di atasnya membelai dan meremas bahkan memuntir putingnya.

Kulihat dia berjongkok dan merapikan buku-buku yang dia masukkan secara acak dan berantakan, posisinya membelakangi aku dari tempat aku berdiri aku bisa melihat sedikit belahan pantatnya karena posisi celananya yang agak tertarik entah dia sadar atau tidak.

Sambil aku membersihkan tembok dari wallpaper yang rusak karena basah, aku terus memperhatikan adikku yang sedang merapikan buku-buku, dia bekrja tanpa bicara, hanya sekali –kali dia berdiri untuk mengambil buku yang ada di atas meja atau di atas rak. Kadang saat dia berdiri untuk mengambil buku di atas rak aku dapat melihat bagian bawah payudaranya yang putih, hal ini makin membuatku horny. Akhirnya kuputuskan untuk fokus pada pekerjaan ku untuk menghilangkan horny ini.

“Kak…….”

“Bisa bantu aku untuk mengambil buku, itu” tiba tiba dia memanggilku sambil tangannya mengarah ke rak di dinding. Cukup tingi memang.

“Sebentar..” aku menghampirinya. Saat telah dekat kulihat ada tonjolan kecil yang tampak jelas di kausnya, serta bagian agak kehitaman di sekitar tonjolan kecil tadi. Kok bisa ya putingnya berdiri, atau…….

“KAKAK…….”

“eh ……. ya….. apa?” sahut ku kaget.

“ Dengerin gak sih”.

“ Eh.. maaf…..aku gak nyimak tadi”

“Kakak angkat aku aja biar aku yang ambil bukunya.”

“HAH!!!”

“Lho kenapa? Kakak gak kuat ya?”

“Bukan begitu… biar kakak aja yang ambil.” Gimana kalau kakak horny sambungku dalam hati. Bagaimana tidak, dengan kondisi dia berpakaian seperti ini dan membayangkan sekali lagi aku memeluknya saja sudah membuatku terangsang, apalagi mengangkat dia.

“Kakak gak akan sampai.”

“Sudah kakak angkat aku aja!” nadanya seperti memberi perintah atasan pada bawahannya. Aduh gimana ini,

Penisku sudah mulai berdiri mendorong celanaku ke depan. Aku tak ingin adikku tahu kalau aku terangsang membayangkan dia.

“Ayo dong Kak!”

Tak ada pilihan lain aku terpaksa mengangkat dia. Ku posisikan diriku berada di belakangnya dan melingkarkan lenganku di pinggangnya, terasa lembut kulitnya saat kulit tenganku bersentuhan langsung dengan kulit perutnya. Kuangkat dia dan segera dia meraih buku-buku di rak itu dan menjatuhkannya tepat di dalam dus yang kosong.

“Yak sudah kah, kakak bisa turunkan aku sekarang.”

Aku menurunkannya tapi saat hampir kakinya menyentuh lantai kedua tangannya berpegangan pada tanganku, dan ketika kakinya sudah menyentuh lantai ketika aku mencoba melepaskan tanganku dari perutnya, tangannya menarik kedua tanganku ke atas, hingga tanganku kembali bisa merasakan bagian bawah payudaranya. Gila adikku nekat sekali dengan adanya ibuku di ruangan ini, bisa saja kami ketahuan. Tapi spertinya dia tak perduli dan tetap meneruskan mengarahkan tanganku pada payudaranya. Akhirnya tanganku kembali berada di payudaranya seperti semalam, kuremas pelan payudaranya, dan jariku mencoba mencari putingnya yang sudah berdiri tegak. Dia melenguh pelan saat aku memuntir ke dua putingnya bersamaan. Pantanya lagi-lagi bergerak menggesek penisku yang masih setengah tegang. Gerakannya makin cepat saat aku mencoba mencium bawah telinganya mencoba membangkitkan birahinya. Nafasnya mulai berat kudengar, lalu dengan tiba-tiba saja dia bergerak melepaskan tanganku dan kembali duduk membereskan buku-bukunya. Dia bekerja seolah-olah tidak ada kejadian tadi. Dan dia tidak menoleh sedikitk pun kearahku.

Kami memindahkan sebagian barangnya ke garasi. Ketika kami selesai, waktu sudah menunjukkan jam 19.00 malam jadi kami langsung menuju ke kamarku.

“Aku akan bersantai di kamar mandisebentar,” katanya, masih terdengar canggung. Tiba-tiba Ditta menarik kaosnya melewati kepalanya, lalu menarik turun celana legging hitam yang di pakainya, memperlihatkan kulit putih tubuhnya tanpa selembar benangpun. Sebelum dia masuk ke kamar mandi, dia mendekat dan memelukku, setengah tengadah dalam pelukanku sejenak.

“Terima kasih atas bantuan kakak,” katanya. Sambil menekan tubuh lembutnya kearahku , dan aku harus berbalik sehingga penisku yang keras tidak menggosok pinggangnya.

Dia menuju ke kamar mandi dan aku duduk di tempat tidurku sejenak sambil memikirkan kejadian tadi.. Kudengar suara air dari shower, dan aku tidak bisa menghentikan pikiranku air yang mengalir di tubuhnya yang telanjang. Aku melirik pintu kamar mandi dan melihat pintu itu terbuka. Handuk yang aku letakkan di bawah pintu tadi malam untuk menahan agar udara dingin, terjepit di bawahnya dan telah menghentikan pintu agar tidak menutup semua jalannya. Ragu sejenak, aku bangkit dan mendekati pintu dan mengintip ke dalam.

Ditta sedang berdiri telanjang di kamar mandi yang membelakangiku. Dia memiliki tubuh yang ramping, pinggul yang membulat, kulitnya halus dan lembut. Mataku memperhatikan kakinya dari lantai sampai ke pahanya, lalu berhenti di tempat dagingnya bulat yang melengkung membentuk pantatnya. Pantatnya tegas tapi sangat bulat, dan aku teringat tentang bagaimana penisku telah ditekan antara belahannya semalam dengan hanya dibatasi lapisan katun tipis di antaranya.

Lengannya terangkat di atas kepalanya membasuh rambutnya, dan dia berbalik sedikit ke samping, memberi aku pandangan garis besar payudara kirinya. Tiba-tiba, dia menjatuhkan jepit rambut di lantai dan membungkuk untuk mengambilnya. Aku terkejut oleh gerakan yang tiba-tiba dan takut dia berbalik dan melihatku, tapi tetap terpaku padanya. Dia membungkuk perlahan tanpa berbalik dan mengambil jepit itu di lantai. Belahan pantatnya membuka sedikit, dan di antara belahannya itu, itil kecilnya yang merah jambu itu mengintip keluar. Aku hanya bisa terpaku dan mataku terkunci melihat apa yang ada di antara pahanya. Bibir vaginanya masih tampak bersih, dengan bulu-bulu hitam yang kuingat pernah kulihat di depan di lemari kemarin. Dia rupanya menemukan pinnya, dan saat dia membungkuk sedikit lebih jauh untuk meraihnya, bibir vaginanya lebih membuka, memberikanku gambaran sekilas tentang daging merah muda di dalam.

Aku sangat ingin jariku kembali ke tempat dimana jariku sempat masuk kedalamnya,terbersit pikiran untuk masuk ke dalam kamar mandi, Tapi Ditta bangkit berdiri, memasukkan jepit rambut dirambutnya, melangkah ke shower, dan kembali membasahi tubuhnya dengan air.

Akhirnya aku menarik diri dari pintu, mundur dua langkah dan duduk di kursi depan komputerku. Tidak ingin meneruskan mengintip adikku karena kami berbagi kamar untuk sementara ini, akan sangat sulit bagiku jika meneruskanya, terutama mengingat betapa horny-nya aku. Kuputuskan aku perlu meringankan diriku sendiri, dan waktu mandi Ditta mungkin satu-satunya kesempatanku saat ini untuk onani. Aku berbalik ke arah komputerku, membuka risleting celanaku, mengeluarkan penisku, dan mulai membuka situs favoritku. Aku bias saja langsung orgasme pada sentuhan pertama, karena aku begitu bernafsu dan mungkin tidak mendapat kesempatan lain lagi untuk sementara waktu ini, aku harus buru-buru, dan aku tahu bahwa Ditta akan mematikan air shower sebelum dia kembali ke kamarku. Aku memilih situs demi situs sambil membelai penisku. Akhirya ku temukan satu situs porno dan langsung memilih satu film yang kusukai. Saat aku sedang mencoba merangsang diriku sendiri,tiba-tiba suara airnya berhenti.

“Kak tadi ibu bilang kita harus turun kalau sudah siap untuk makan malam?” Seru Ditta dari kamar mandi. Tanganku membeku di penisku dan dengan panik aku menutup browser internet. Aku memasukkan penisku ke celana dan mengalihkan pandangan ke arah pintu kamar mandi. Aku bisa melihat jelas dari tempatku berada, tapi tidak melihat Ditta. Aku bergerak cepat tak bersuara menjauh dari komputer dan kamar mandi dan duduk di ranjang sebelum menjawab.

“Ya,” jawabku, berusaha sebaik mungkin untuk menyembunyikan napasku yang cepat.

“Ya Sudah, Ade akan keluar sebentar lagi,” jawabnya. Aku duduk dan diam-diam memaki diriku sendiri.

Ditta keluar dari kamar mandi dengan piyama mandinya, suasana hatinya tampak jauh membaik. “Merasa lebih baik?” Aku bertanya.

Dia melirik sekeliling ruangan sebentar, lalu menoleh ke belakang. “Ya, Ade ngerasa lebih segar sekarang.” Dia tersenyum lembut dan keluar menuju lantai bawah.

Selesai makan, malam sudah larut, tapi Ibu ingin membicarakan soal kamar Ditta lagi. Ditta sudah beranti pakaian yang lebih santai. Ibu selalu perduli pada kami, dan ia senang sekali mendiskusikan apa yang akan dikerjakan jika itu berhubungan dengan anak-anaknya, tentang semua detail membosankan tentang apa yang di cover oleh asuransi rumah dan sebagainya. Kupikir ibu sebagai orang tua tunggal berusaha untuk membuat anak-anaknya cukup diperhatikan, Ibu mengunkapkan rencananya membantu Ditta memperbaiki dan merapikan kamarnya, agar dapat mengurangi beban putrinya karena harus berbagi kamar dengan kakaknya. Setelah cukup Ibu bergegas kekamarnya untuk tidur .

Ditta dan aku pergi ke kamar aku dan aku menuju ke kamar mandi lebih dulu untuk bersih-bersih.

“Jangan terlalu lama di sana, Ade cape banget dan mau sikat gigi.” Kata adikku. Kami berdua masuk dan keluar dalam beberapa menit, aku memakai celana boxer dan t-shirt dan dia lagi-lagi mengenakan piyama katun biru tua kemarin. Saat Ditta naik ke tempat tidurku, aku berhenti sejenak. Berpikir tentang apa yang harus ku lakukan, apakah aku harus berbagi tempat tidur dengannya atau tidur di lantai, aku mematikan lampu dan meraih bed cover untuk matras tidurku.

“Ini akan sama dinginnya seperti kemarin malam,” kata Ditta. “Dan ade akan kedinginan lagi. Tolong jangan membuat diri kakak sakit lagi seperti sebelumnya.”

itu adalah undangan yang aku tunggu-tunggu, tapi aku malah ragu. Ini adalah bagaimana kejadian kemarin itu berawal. Apa Ditta tahu dengan apa yang kuinginkan? Meskipun aku tahu seharusnya ini tidak boleh terjadi, aku tidak bisa menahan diri dari kesempatan ini. Aku menghabiskan sepanjang hari ini dengan menahan nafsuku tanpa dapat melepaskannya dan sama horninya seperti kemarin. Aku sangat menginginkan kejadian semalam terulang lagi, tapi tetap saja tidak percaya kalau adikku mengajak tidur seranjang lagi malam ini.

Aku meletakkan bed cover kembali ke tempatnya, penisku sudah tegang sekali. Sengaja, aku mencoba menutupinya dengan tanganku saat aku bergerak ke arah ranjang sehingga dia tidak dapat melihatnya walau dengan hanya di terangi cahaya dari monitor komputer.

Aku naik ke bagian tepi tempat tidur kali ini, adikku dekat dengan tembok, dan berbaring miring memunggunginya “Selamat malam,” kataku dengan suara serak dan seriang mungkin.

Ditta menarik selimut menyelimuti tubuhku dan berbaring menghadapku dengan jarak yang cukup jauh di antara kami, kami berada di masing-masing ujung tempat tidur. Dia lebih relax dari sebelumnya, dan malam telah larut, tapi aku masih bisa merasakan ketegangan di tubuhnya. Aku rasa dia takut kalau aku akan mencoba berbuat sesuatu padanya. Aku sama tegangnya juga seperti dia sebenarnya, dan masih merasakan tekanan penisku di celanaku. Aku memutuskan untuk menunggunya tertidur.

Kami berbaring di sana dengan tegang selama beberapa menit, saat tiba-tiba kami mendengar suara anjing menggonggong dari luar. Bukan hal yang biasa terjadi pada malam hari, karena tidak banyak warga disini yg memelihara anjing. Tetap saja, itu cukup mengejutkan kami berdua, dan Ditta terbangun dan merubah posisinya telentang. Dia kemudian meraih pundakku dengan tangannya dan menekan tubuhnya ke arahku, sedikit menggigil. Sekali lagi aku mencoba menenangkannya membantunya untuk tidur lagi, kembali ada sensasi tambahan kehangatan dari tubuhnya dan nuansa lembut tangannya di bahuku.

Setelah beberapa menit usahaku yang gagal untuk tidur,Aku merasa Ditta menggeser tangannya dari bahuku. Dia bergeser meletakkan kepalanya di belakangku tapi memberi jarak antara perut dan punggung kami. Kami sama-sama tegang. Aku sangat menginginkan dia memulai sesuatu lagi seperti kemarin malam. Aku hanya bisa meletakkan tanganku di pinggangku menunggu, dan berharap.

Semenit lagi berlalu, dan aku merasa Ditta sedikit lebih rileks lagi. Napasnya menjadi lambat dan teratur. Kurasa dia pasti tertidur. Saat kekecewaanku meningkat, tiba-tiba Ditta menarik napas perlahan dan sedikit bergeser lebih mendekatiku. Tangannya bergerak ke atas dan ke bawah di perutku, sepertinya dia mencari posisi yang lebih nyaman. Setelah beberapa detik tangannya terangkat, menarik ke atas t-shirtku, menyelipkan sedikit demi sedikit jarinya masuk ke t-shirt ku dan jarinya kini tepat di bagian pinggangku. Jemarinya yang panjang dengan ujung yang lembut, perlahan bergerak turun dan aku hanya bisa merasakannya rabaannya di kulitku, tak berani bergerak, Ditta pun diam tak bergerak.

Aku merasa sangat frustrasi dan gugup, adrenalinku sudah setinggi semalam, tapi aku merasa dia sudah tertidur nyenyak, tidak ada yang bisa aku lakukan kecuali menunggu. Kemudian dia menarik napas lagi, dan jari tangannya mulai perlahan dan ringan menggosok kulitku, turun perlahat mencari tepi celana boxer ku dan kemudian tangannya masuk dan berhenti hanya satu inci dari ujung penisku yang keras.

Mungkinkah dia hanya pura-pura tidur? Ataukah dia terbaring di sana menginginkan hal yang sama seperti aku, karena takut ditolak seperti aku, dan mencoba untuk mengetes aku menunggu apa yang akan aku lakukan? Aku kembali menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Celana boxerku tak begitu baik dalam hal menahan penisku yang ereksi. Aku mencoba bergerak dan menggeser pinggulku sedikit, cukup dekat sehingga akhirnya penisku bisa tersentuh tangannya. Jika dia benar-benar sedang tidur, dia tidak akan merasakannya, tapi jika dia hanya pura-pura aku akan tahu kalau dia menginginkan diriku.
Sesaat kemudian, rupanya dia lebih berani, tangannya mulai bergerak lagi. Dia menggesernya ke bawah sedikit dan menyentuh kepala penisku, sampai akhirnya penisku hampir seluruhnya berada di bawah telapak tangannya, lalu menggosok sedikit. Dia menarik tangannya lagi hanya menyisakan jarak 1cm dari jari kelingkingnya dengan penisku dan berdiam di sana, seolah menguji aku lagi. Jantungku berdebar kencang saat merasakan itu dan aku menarik napas dalam dan keluar perlahan dengan hati-hati, sebagai isyarat untuknya.

Tangannya bergerak lagi perlahan, lalu lebih turun. Jemarinya bersentuhan melewati rambut pubisku, tangannya berada di atas penisku sekarang. Kemudian dengan satu jari, dia mengusap dan menyentuh lubang di kepala penisku untuk pertama kalinya. Dia perlahan mengusapnya dengan ujung jari membentuk lingkaran,turun ke bawah dan kemudian kembali ke atas. Dia mengitari jarinya di sekitar kepala penisku lagi.

Saat dia tengah membelai penisku, dia mendekatkan kepalanya dan mencium leherku dengan ringan, lalu lagi dan lagi. Ciumannya menelusuri arah ke telingaku, dan dia berbisik padaku. Suaranya lembut, dan bergetar terdengar.

“Ade sengaja membiarkan pintu kamar mandi terbuka sedikit untuk Kakak saat mandi tadi, aku berharap kakak akan mengintip aku.”

Dia terus mengusap jarinya di penisku. Aku menoleh ke arahnya. “kakak ngintip ade tadi, maafin kakak ya,kakak tidak dapat menahan diri, kakak membayangkan kamu terus sepanjang hari ini. Ketika Ade membungkuk untuk mengambil jepit rambut, itu adalah hal terseksi yang pernah kakak lihat.”

Selesai aku berkata itu, dia perlahan menggenggamkan seluruh jari tanganya di penisku dan meremasnya lembut.

“ade juga ngintip Kaka tadi, waktu ade masih di kamar mandi. Ade melihat kakak menggosok penisKakak membuat ade ingin sekali menyentuhnya.” Dia mulai mengocok penisku naik turun, dan dia menjilatkan lidahnya di bagian telingaku.

Aku telentang dan berinisiatif menurunkan celana boxerku, sekaligus dengan celana dalamnya. Akhirnya bebas sudah penisku, tapi dia tubuhnya malah bergerak menjauh dari tubuhku. Tapi tangan Ditta masih menggenggam dengan kuat dan terus membelai perlahan penisku. Dia kembali maju dan mencium pipiku. Masih tetap membelai penisku, dia berbisik pelan dan ragu-ragu padaku. “Mau gak Kakak menyentuh Ade lagi, di tempat yang sama seperti yang Kakak lakukan tadi malam?”

Aku tanpa berpikir panjang lagi langsung menyelipkan tanganku ke celana piyamanya. Dan aku terkejut ternyata dia tidak memakai pakaian dalam lagi. Jari-jariku kembali bergerak melewati rambut pubisnya dan jari-jariku menari-nari di bibir vaginanya dengan riang.

Sambil meringkuk, dia tetap mengocok penisku, dan aku mengusap-usap jariku di antara bibir vaginanya, sedikit demi sedikit tapi semakin dalam.

Aku terdiam beberapa saat, kemudian memasukkan jariku ke dalam vaginanya lagi, seperti yang kuharapkan sepanjang hari ini. Gerakan tangannya begitu lembut di penisku, dan aku luar biasanya dapat bertahan tidak ejakulasi saat itu juga. Aku menarik jariku keluar dan memasukannya lagi berulang-ulang, mengikuti setiap gerakan tanganya di penisku. Dia mulai mengocok lebih cepat dan lebih cepat lagi, dan aku melakukan hal yang sama, mengeluarkan dan memasukkan jari tengahku di vaginanya. Akhirnya dia mengarahkan tangannya yang bebas dan memmegang tanganku yang sedang divaginanya, memaksa jariku untuk tetap berada di dalam dirinya dan menekan jempolku ke arah bagian atas vaginanya. Dia mulai menggerakkan pinggulnya untuk menekan tanganku, dan aku hanya dapat mengikuti instruksi tangannya. Aku mengusapkan ujung jariku di dinding dalam vaginanya yang lembut, bergerakk lebih cepat dan lebih cepat lagi. Masih memegang tanganku, dia menekan pahanya erat-erat.

Dia telah orgasme dan seluruh dinding vaginanya berdenyut di tanganku, vaginanya meremas jariku lembut disaat tubuhnya mengejang. Penisku ikut bereaksi melihat dia orgasme dan akhirnya aku juga orgasme dengan kocokan tangannya yang masih terus bergerak, spermaku menyembur kencang tak terlihat karena kamar gelap, dalam keadaan masing-masing masih menyemprotkan cairan orgasme, orgasme yang kami rasakan sepertinya terus berlanjut, dia juga masih membelai dan mengocok penisku.

Saat kami akhirnya selesai, kami hanya berbaring tanpa bergerak, jariku masih di vaginanya dan jarinya dengan lembut masih melilit penisku. Saat aku akan tertidur, aku bertanya-tanya apakah ini hanya mimpi. Untuk membuktikan pada diriku sendiri ini bukan mimpi, aku membungkuk dan memberi Ditta ciuman panjang dan lembut di pipinya.

“Terima kasih ya dek.”

“Ade juga terima kasih ya kak”

Dan kami pun terlelap.

To Be Continued…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.