Berbagi Kamar Dengan Adik Perempuanku

Bag. I
Aku terbangun saat terdengar gemuruh petir, dan bersamaan itu juga terdengar suara ketukan dipintu. Aku melihat ke jam. Saat itu masih tengah malam, dan sedang hujan di luar. Saat pintu terbuka, aku melihat adikku Ditta masuk ke kamarku membawa selimut. Dia mengenakan baju tidur , kemeja lengan panjang biru dengan gambar anjing kuning tercetak di atasnya dan sangat pendek menunjukkan kesesksiannya.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” Tanyaku, masih bingung karena setengah tertidur.

“Ibu bilang ade boleh tidur sama kakak malam ini,” jawabnya.

“Kenapa kamu tidak tidur di sofa aja?”

“Sudah di tempati .” Dua ekor kucing kami telah membuat sofa menjadi tempat tidur mereka dari dulu, dan kami tidak memiliki keinginan untuk melatih mereka dengan lebih baik atau mengusirnya ke luar.

Aku menatap kosong ke arahnya sesaat, melihat dia dalam cahaya yang terpendar dari monitor komputer ku, yang aku biarkan menyala. Aku memperhatikan piyama yang dia kenakan yang dibelikan ibu tahun lalu. Piyama katun tua yang dikenakan cukup tipis, dan jelas terlalu kecil. Bagian atas terlalu ketat di dadanya, dan sedikit terbuka di antara kancing-kancingnya, memperlihatkan kulitnya yang putih.

“hujan menghancurkan jendela di kamar ade dan air hujan masuk di sana.”

aku menjadi lebih segar sekarang, aku menjadi sadar karena suaranya terdengar hampir menangis. Akhirnya setelah lebih segar, aku bangkit dari tempat tidur.

“Tentu, de, masuklah. Siapa yg melarang?”

Dia duduk di tempat tidurku. “Kakak gak dengar suara kaca pecah dalam badai tadi, tapi suara petir membangunkan kakak, sepertinya semuanya sudah basah kuyup di kamarmu”

“Ibu bilang kita harus menunggu sampai pagi untuk mengurusnya. ” Aku tahu dia lelah dan hampir menangis.

“Mari kita tidur,” kataku. Dia bangkit dan meletakkan selimutnya dilantai. “kenapa kamu gak tidur ditempat tidur, Dek? Biar kakak yang di bawah.”

“Ade gak mau ngusir kakak dari tempat tidur kakak.”

“Aku gak apa apa, sungguh, setelah kamu basah kuyup, kamu harus tidur nyenyak. Besok sepertinya akan repot, sebelum kita kuliah, kita harus mengurus kamarmu.”

“Terima kasih kak.” Dia naik ke tempat tidur dan langsung tertidur.

Saat merapikan alas tidur, aku melirik ke komputerku dan merasa malu. Kamarku selalu menjadi tempat teramanku, Ibu dan Ditta jarang masuk kamarku, dan aku cenderung lupa bahwa aku tinggal dengan orang lain saat berada di kamar. Aku sedang melihat film porno secara online sebelum aku pergi tidur, dan tidak mau repot repot menutupnya saat sudah selesai. Di layar ada gambar cewek yang sedang memberi blowjob pasangannya. Mejaku berada persis di sebelah tempat tidurku dimana aku berbicara dengan adikku tadi, dia tidak mungkin tidak melihatnya. Aku berjalan kearah komputerku dan menutup browser. Sebelum mematikan monitor, aku mengecek Ditta untuk memastikan dia tertidur. Lalu aku merangkak ke alas tidur dan mencoba melupakan rasa maluku.

Keesokan paginya Ibu membangunkan kami lebih awal dan kami diajak masuk ke kamar Ditta. Jendela yang pecah sangat mudah diganti, tapi ada banyak tempat yang basah karena air. Karpet dan tempat tidurnya seperti habis direndam. Ditta membiarkan lemari pakaiannya terbuka semalam, dan air masuk mengenai ke sebagian besar bajunya di sana. Hanya barang-barang di lemari satunya yang masih kering. Kami menutup jendelanya dengan papan sementara dan meletakkan pakaian basah di ember. Ibu bilang dia akan mencucinya di laundry. Lalu tiba waktunya untuk kami bersekolah.

Ditta dan aku selisih satu tahun dan pergi ke universitas yang sama, di mana aku mahasiswa tingkat dua dan dia adalah mahasiswa baru. Aku mengantar dia ke kampus dan rumah setiap hari. Kampus kami cukup dikenal, dan kita berada di kelas yang berbeda, kita jarang sekali bertemu di siang hari. Setelah sekolah hari itu kami bertemu di mobil untuk pulang, dan dia terlihat sedang kesal. Di dalam mobil aku bertanya padanya ada apa.

“Ade ngajak makan siang Merry dan Cindy hari ini.” Ketiganya tidak terpisahkan di sekolah menengah, tapi begitu mereka kuliah, keduanya telah mencampakkan adikku yang pemalu untuk bergabung dengan kelompok perempuan yang lebih populer. Baru beberapa bulan berlalu, dan Ditta sedang mencari teman baru. “Merry dan pacar barunya ngeledekin aku, dan Cindy memintaku duduk di tempat lain.”

“Maafin kakak ya.” Karena malu sendiri tidak bisa membantunya, aku tahu betapa sepi yang dia rasakan, tapi aku tahu tidak ada yang bisa aku bantu kecuali bersimpati. Saat mobil berjalan, aku sedikit mengerang.

Ditta menatapku. “Ada apa,” dia bertanya, prihatin.

“Gak apa apa, badan kakak hanya sedikit sakit dan pegal karena tidur di lantai tadi malam.”

“Maaf, kakak harus tidur di tempat tidur malam ini.”

“Gak, aku gak bisa membiarkan kamu tidur di lantai adikku sayang. Gak begitu sakit kok, aku hanya tidur dengan posisi yang salah.”

Setelah kami sampai di rumah, aku membantu Ditta memindahkan beberapa pakaian gantungnya ke dalam lemari aku. Lemari ku masih ada ruang, dan kami bisa menjejalkan semuanya.

Lemariku diisi sampai penuh, lalu aku duduk di kursi komputerku beristirahat.

“Terima kasih sudah mau berbagi kamar dengan ade kak, sampai kamar ade selesai diperbaiki lagi. Ade tahu kamar ini selalu menjadi ruang pribadi Kakak, dan adegak suka mengganggu privasi kakak.” Dia melirik layar komputerku yang kosong untuk sesaat, dan aku ingat kejadian semalam. Menyadari rasa maluku, dia dengan malu-malu mengalihkan pandangannya dan mengganti topik pembicaraan. “Ade mau turun dan makan Mie, kakak mau apa?”

Aku menenangkan diri. “Gak usah, terima kasih, Kakak mau mandi dulu, dan kakak tidak masalah berbagi kamar dengan kamu dek, hanya akan ada sedikit penyesuaiaan. Kakak tahu kamu sedih banyak barang ade yang rusak. Tapi anggap aja seperti kamar adek sendiri dan cobalah untuk merasa nyaman. ”

Dia keluar dan aku masuk ke kamar mandi. Ditta dan aku berbagi kamar mandi, yang terhubung ke kedua kamar secara langsung. Biasanya ketika salah satu dari kita sedang menggunakan kamar mandi, kita mengunci pintu yang lain. Ketika aku berdiri di kamar mandi, aku mencoba untuk rileks dan tidak khawatir dengan masalah adikku atau rasa malu ku sendiri karena kejadian tadi malam, dan lebih memusatkan perhatian pada air yang merilekskan otot-otot ku yang sakit. Masih asyik, aku keluar dari kamar mandi, lepas handuk, dan menuju ke kamarku untuk berpakaian seperti yang telah aku lakukan seribu kali sebelumnya.

Aku masuk ke kamarku dan melangkah beberapa langkah sebelum membeku. Berdiri di depan lemariku dengan pintu terbuka lebar adalah adik perempuanku, telanjang bulat dengan punggungnya membelakangi aku sedang mencari pakaian dalam di rak lemari. Dia sedikit lebih pendek dariku, dengan rambut hitam panjang dan lurus dan kulitnya terlihat lembut dan putih. Tubuhnya sudah berkembang, dan bentuknya begitu sempurna, dengan pinggulnya berbentuk bulat. Sesaat aku membeku, dia berbalik dan melihat aku berdiri di sana, dan untuk sesaat kami berdua hanya berdiri dan saling menatap.

Ini adalah pertama kalinya aku melihatnya telanjang sejak dia kecil, dan pertama kali aku melihat wanita telanjang secara pribadi. Dia memiliki payudara bulat, kencang, b-cup, dengan puting besar yang sepertinya menudingku. Meskipun aku bisa saja menatap lekuk lembut payudaranya sepanjang hari, mataku tertunduk melewati perutnya yang lembut dan rata. Rambut kemaluannya hitam, dan rapi dan liar pada saat bersamaan. Cara dia berdiri, aku bisa melihat profil bibir vaginanya, terbentang sedikit.

Saat aku menatapnya, aku menjadi sadar bahwa dia juga menatap aku, dan mengikuti matanya, aku ingat aku baru selesai mandi juga telanjang, dan penisku terlihat penuh, tumbuh lebih besar dan lebih kaku.

Dia menatapku dan mata kami terkunci beberapa saat. Seperti malam sebelumnya, dia mencoba menghindari saat yang memalukan itu.

“Maaf, ade mau ganti baju dan sedang mencari celana dalam yang bisa ade pakai. Semua celana dalam ade ada di barang yang harus dibersihkan.” Aku sadar dia sedang memegang celana boxerku. Dia cepat-cepat memakainya dan mengenakan salah satu kemejanya, sesaat aku berdiri diam dengan hampa, tak tahu harus bagaimana, menutupi diriku atau mundur ke kamar mandi.

“Ini agak longgar, tapi masih pas lah.” Dia memakai celana jins dan berbalik meninggalkan lemari, berhenti sebentar, lalu memperhatikan tubuh telanjangku dan keluar kamar.

Aku selesai berpakaian dan duduk canggung di meja makan bersamanya saat makan malam, tidak mengatakan apa-apa. Setelah Ibu pergi ke dapur untuk beres-beres, aku menoleh kepadanya dan berkata, “De, kira-kira tadi di atas-”

“Jangan khawatir tentang itu.” Dia menatap lantai dengan ekspresi netral di wajahnya. “Kita tinggal bersama, sekarang lebih dari sebelumnya, dan seperti yang kakak bilang, kita harus sedikit menyesuaikan diri.” Dia menatapku dan tersenyum manis padaku. “Dan menurut ade ini bukan masalah besar jika saudara laki-laki dan saudara perempuan melihat masing-masing telanjang.”

Kami menonton TV untuk sementara waktu sampai Ibu pergi tidur, lalu meninggalkan sofa untuk kucing kucing kami dan berjalan menuju kamarku untuk bersiap-siap tidur. Aku pergi ke kamar mandi lebih dulu untuk bersiap-siap, dan memastikan aku memberi Ditta cukup waktu untuk memakai piyama nya sebelum aku masuk kembali ke sana.

“Giliranmu,” kataku saat aku keluar. Saat Ditta menuju ke kamar mandi, aku kembali melihat celah di antara kancing kancing piyama di bagian pahanya, tertutup dan terbuka saat berjalan karena baju yang terlalu kecil. Celahnya memperlihatkan kulitnya yang lembut tampak lebih besar dari tadi malam, tapi membuat penasaran. Aku juga bisa melihat di bagian dadanya melengkung lembut, dan membayangkan bisa melihat payudaranya yang besar lagi. Saat berjalan melewatinya, aku melihat pantatnya yang bundar, melihat warna celana boxer yang lebih gelap-celana dalam celana katun yang sudah usang itu. Aku membayangkan celana dalamku sendiri bergesekan dengan bibir vaginanya yang lembut. Sesaat kemudian, pintu kamar mandi tertutup.

Kejadian sore tadi telah membuatku jadi horny. Biasanya saat aku horny di malam hari, aku akan duduk di depan komputerku dan mengunjungi beberapa situs favoritku, tapi hanya ada waktu beberapa menit sebelum Ditta kembali, kuputuskan itu bukan pilihan malam ini. Aku menanggalkan t-shirt dan celana boxer-ku, masuk ke sleeping bag yang sudah kusiapkan dan mencoba membersihkan isi kepalaku untuk bisa tidur.

Ditta kembali masuk dan melihat aku sudah di lantai. Dia mematikan lampu, hanya menyisakan sedikit cahaya dari monitor, dan naik ke tempat tidur, membungkus tubuhnya dengan selimut di sekelilingnya erat-erat seperti kepompong. “Pasti dingin di sini malam ini,” katanya. Dia benar.

“Angin masuk dari jendela kamar ade yang rusak jadi semua udara dingin masuk ke sini melalui kamar mandi.” Aku keluar dari kantong tidur dan menjejalkan handuk di bawah pintu kamar mandi.

Ditta memperhatikan aku saat aku melakukannya. “kakak seharusnya tidak tidur di lantai yang dingin, apalagi kakak sedang sakit.”

“Dan kakak macam apakah aku jika membiarkanmu tidur di sana?”

Ditta menatapku sesaat dan ragu-ragu. “Kita bisa, um, kakak tahu lah, berbagi tempat tidur. Ada cukup ruang untuk kita berdua.”

Aku juga ragu dengan gagasan itu. Aku masih tidak bisa membuang sosok Ditta yang telanjang dari kepalaku, berbagi ranjang bisa jadi ide yang buruk. Di sisi lain, lantai terasa dingin dan keras dan bahuku terasa sakit. “Baiklah, hanya untuk malam ini.” Dia bergeser ke tepi ranjang tanpa berbicara denganku, masih terbungkus. Aku hanya melompati tubuhnya untuk mengambil ke sisi dinding, berbaring miring menghadapnya. Ditta membuka sebagian selimut dan mengulurkan meletakkan selimut di atas tubuhku. Dia membelakangiku, dengan jarak yg begitu dekat. Aku bisa merasakan panas tubuh yang keluar dari tubuhnya, tapi aku mencoba mengeluarkannya dari kepalaku.

“Selamat malam, dek,” kataku.

“Selamat malam.”

Aku hampir saja tertidur saat Ditta berkata, “Ade masih kedinginan.” Dia mundur ke belakang dan meraih lenganku dan menariknya ke atas dirinya sendiri dan menepuk-nepuk tubuhku, menarikku ke punggungnya dan menyandarkan pantatnya ke pangkal pahaku. Aku merasakan tubuhnya yang hangat melalui kemeja katun kami. Dengan tangannya di atas tanganku, dia menariknya dan meletakkan telapak tanganku dirusuknya. Aku merasakan jari-jariku tepat berada di celah antara kancing kemejanya dan dapat menyentuh kulitnya yang lembut. Untuk waktu yang lama aku hanya menahan tanganku di sana, tidak berani bergerak, merasakan kulitnya yang lembut hanya beberapa sentimeter dari payudaranya. Semua pikiranku hilang dan hanya merasakan sensasi di ujung jari-jariku. Aku bahkan tidak berani bernafas karena takut kehilangan momen itu.

Lalu aku merasakan sesuatu yang lain. Penisku mulai membengkak dengan cepat. Ini karena pantat Ditta menekannya dengan lembut, tidak mungkin kusembunyikan. Seiring bertambahnya, penisku semakin mendesak ke pantanya. Di bawah tanganku aku merasakan napas Ditta semakin cepat, jantungnya berdegup kencang dan tubuhnya tegang. Aku duduk tak bergerak, takut akan apa yang terjadi tapi lebih takut kehilangan perasaan ini.

Ditta mulai bergeser, dan aku merasa panik saat berpikir momen ini semua akan hilang. Tentunya dia akan menjauh dariku. Tapi aku terkejut dia mengayunkan pantatnya ke depan dan ke belakang, menekan dirinya lebih kebelakang menekan penisku yang keras. Pada saat yang sama, dia menarik tanganku lebih jauh ke lubang di bajunya. Dia pasti sudah membuka satu kancing lagi, karena kedua tangan kami dapat meluncur masuk dan naik menyusuri rusuknya sampai jariku menempel di bagian bawah payudaranya. Aku bisa merasakan setiap bagian tubuhnya, dari tangannya sampai ke kakinya, bahkan lebih tegang dari sebelumnya. Meski jantungnya berdegup kencang, dia tetap terbaring tidak bergerak.

Adikku sudah mengambil langkah lebih dulu; Mungkin dia sedang menunggu untuk melihat reaksiku apakah aku akan mengambil langkah lebih jauh. Dengan perlahan aku mulai menggerakkan jariku ke sisi dadanya, menunggu ada tanda penolakan. Tidak merasakan apa-apa, aku semakin berani dan menggerakkan tanganku. Dengan hanya menggunakan ujung jari, aku membelai tepi dadanya, takut setiap saat dia menjauh dariku.

Saat jari-jariku mengitari dadanya, aku mulai memijatnya dengan lembut di telapak tanganku. Jari-jari aku berputar ke dalam, dan aku perlahan-lahan mengelilingi areolanya sebelum mengarahkan telunjuk dan jempolku ke putingnya.

Aku tidak pernah merasa lebih terstimulasi sepanjang hidupku. Kontolku mulai melompat sedikit dalam kegembiraan melawan pantat Ditta, dan saat aku menangkupkan payudaranya dan menyentuh putingnya, dia menarik napas pelan dan mulai menggosok ke atas dan ke bawah penisku dengan pantanya, perlahan pada awalnya, tapi kemudian lebih kuat saat aku mendorong penisku lebih kedepan. Meskipunkami masih berpakaian, aku dapat merasakan penisku terletak di antara pipi pantatnya dan aku mendorongnya dengan lembut ke arahnya.

Aku mengarahkan tanganku yang lain melalui bawah kepalanya dan membuka kancing bagian atasnya, dan meraih payudaranya yang satu lagi. Tanganku yang lain bisa bebas sekarang,dan ku gunakan untuk membuka kancing-kancing yang lain dan menarik bajunya terbuka. Lagi-lagi jari aku membelai dirinya, kali ini kulit lembut yang berada tepat di atas pinggangnya. Setelah beberapa putaran aku mulai mengarahkan satu jari di bawah keujung celananya di sisinya, lalu yang lain, yang satunya lagi masih membelai dan meremas lembut dadanya. Aku merasakan kulit pinggulnya di bawah celana boxer-ku saat dia terus menekan pada penisku, dan perlahan-lahan menggerakkan tanganku ke perutnya, menjaga jariku di dalam celana.

Dia memegang tanganku sedetik kemudian, lebih pelan menuntun tanganku ke bagian lain yang lebih ke bawah, aku mulai menggerakkan jemariku lebih jauh. Pertama yang kusentuh adalah rambut vaginanya, dan aku teringat betapa hitam warnanya. Aku membelah jari-jariku dan mendorong melewati rambutnya, telapak tanganku sekarang menekannya.

Ketika aku melanjutkan lebih rendah lagi, aku merasakan dorongan adrenalin terbesar dalam hidupku, apalagi ketika sampai menyentuh kulit lembut vaginanya. Dengan hanya menggunakan dua jari, aku dengan lembut menelusuri satu jariku di setiap bibir vaginanya. Dia tersentak sedikit dan berhenti mengerakkan pantatnya. Seketika saja aku kaget dan takut dia akan menarik diri dan marah dan yang bisa aku lakukan aku berhenti sejenak, tapi tidak mungkin aku bisa menghentikannya. Dengan hanya satu jari aku melingkari lubangnya, merasakan kulit bibir vaginanya yang halus dan lembut. Dia meraih satu tangan di atas kepalanya dan mengarahkan ke belakangnya, mengusap rambuku dan mencengkeram bagian atas kepalaku. Tangannya yang lain tergelincir dengan cepat ke pakaian dalamnya ke atas tanganku, dia mencengkeram tanganku, dan menekannya ke vaginanya. Dia mulai mengosokkan pantanya ke pangkal pahaku lagi, dan penisku sepertinya terbungkus
dengan daging pipi pantanya.

Aku mencengkeram dadanya lebih erat dengan satu tangan dan meraih jariku dan menyentuh tepat di tengah vaginanya, merasakannya menjadi lebih basah dan lembut daripada yang pernah kubayangkan. Tangannya menekanku lebih kencang, dan aku menjulurkan jariku ke dalam dirinya. Dia menghembuskan napas dan menghirupnya dengan tajam dan menarik kepalaku menekan lebih keras di punggungnya. Aku mendorong jariku masuk dan keluar dari dirinya, menggosok ujungnya ke arah yang terasa seperti kerutan di dalam vaginanya. Jari-jariku yang lain pada awalnya menyenggol bagian luar, tapi kemudian dengan tangannya dia menarikku lebih keras ke arahnya, mendorong jempolku ke area di bagian atas vaginanya. Karena tidak dapat menarik jariku, aku semakin cepat menekuk jari aku dengan gerakan cepat di dalam vaginanya, menggosok ujung jariku ke arahnya secepat dan sekuat tenaga. Dia menggerakkan pinggulnya ke atas dan ke bawah mengikuti setiap gerakan jariku dan dia menekanku dengan segenap kehangatan dan kekuatannya, napasnya cepat dan dangkal.

Saat kami melanjutkan, tangan aku mulai lelah, tapi aku tidak berani berhenti, dan dia terus bergerak melawan aku lebih keras dan lebih cepat. Akhirnya, dia meledak di pelukanku, tubuhnya menyentak dan menekan tanganku, dada dan penisku. Aku memeluknya erat-erat, satu tangan sambil meremas dadanya. Aku bisa merasakan vaginanya meremas keras jari aku berulang kali saat aku terus mendorongnya ke dalam dirinya. Orgasme nya sepertinya berlangsung selamanya.

Saat dia menyentak akhirnya melemah dan berhenti, dengan lembut dia menarik jariku dari vaginanya sampai ke perutnya. Dia menggoyang pantatnya melawan penisku lagi, dan aku merasakan seluruh tubuhnya relaks di pelukanku. Beberapa menit kemudian dia tertidur lelap. Aku tertidur sambil memeluknya, dan berharap aku bisa berbagi kamar dengan adikku selamanya.

to be continued

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.