Berbagi Kamar Dengan Adik Perempuanku 4

BAB IV

Berbagi komputer

Aku terbangun karena merasakan sesuatu yang tidak biasa. Biasanya bangun tidur aku bermalas-malasan sebentar, tapi hari ini ada sesuatu yang berbeda. Aku berbaring masih memejamkan mata, aku merasakan ada suatu sensasi yang kukenal, dan tahu apa itu, sensasi menggelitik diantara pahaku. Aku merasa celana boxer-ku sudah turun sampai lututku dan tiba-tiba rasa enak itu berhenti, lalu aku merasakan penisku ditarik oleh sesuatu yang lembut dan basah. Sensasi nikmat itu luar biasa, dan secara perlahan penisku mulai tegang dan membesar.

Aku membuka mataku dan melihat adikku Ditta berada di sampingku, sedang membungkuk dan mulutnya sedang meng-oral penisku. Menyadari aku telah membuka mata dia menghentikan kegiatannya dan menoleh kearahku, “Waktunya bangun,” katanya. “Besok , hari Sabtu, Ibu ingin membicarakan tentang perbaikan kamar ade.” Dia mengusap jarinya di penisku beberapa kali, lalu melepasnya dan pergi.

Tiga malam yang lalu sebuah badai telah menghancurkan jendela di kamar adikku, membuatku terpaksa harus mau berbagi kamar dengan adikku sampai kerusakan itu selesai diperbaiki. Kesulitan dalam bergaul di kampusnya yg baru, dia jadi lebih dekat denganku. Dan adikku mau berbagi tempat tidur denganku, yang membuat tiga malam terpanas dalam hidupku. Kami tahu hal ini salah, dan ada ketakutan kalau sampai Ibu kami mengetahui ini akan jadi bencana unruk kami, meskipun begitu nafsu lebih berkuasa atas kami, sehingga kami mengabaikan ketakutan kami dan kami berdua tetap melakukannya. Tadi malam, Ditta mulai mencoba berkencan. Pria teman kencannya adalah teman dari pacar merry, Ditta hampir saja dipaksa untuk melakukkan sex dengan teman kenannya itu, aku berhasil menyelamatkannya dan kami pulang bersama. Merry marah dan memaki Ditta sebagai cewek pwmalu. Ketika kami sampai di rumah dan masuk ke kamarku, dia menunjukkan betapa salahnya mereka. Di luar kamar, kami harus berpura-pura jadi kakak-adik yg baik , tapi saat kami berada di kamar, kami bisa saling melepaskan segala kepura-puraan.

Ibu mengatakan kepada kami akan menghemat uang perbaikan, salah satu caranya adikku dan aku harus membantu proses perbaikan itu. Setelah sarapan kami memindahkan perabotan dan barang-barang lainnya ke garasi. Saat kami sedang membersihkan diri, Ditta baru mengetahui kalau laptopnya tidak bisa berfungsi lagi. “Air pasti sudah membuatnya korsleting. Seharusnya jangan langsung dinyalakan,” kataku padanya.

“Ade perlu komputer untuk mengerjakan pekerjaan rumah,” katanya.

“Maaf, sayang, Kamu harus meminjam komputer Kakakmu sampai Ibu bisa membelikan yang baru.”

Seminggu sebelumnya, tidak ada orang lain yang boleh memakai komputerku, sekarang aku harus berbagi menggunakan komputer dan ini membuatku takut. Tidak seorang pun, bahkan Ditta dan Ibu, masuk ke kamarku dan tidak ada orang lain yang pernah menggunakan komputerku. Oleh karena itu, aku tidak pernah menyembunyikan file-file pornografi yang sering aku download. Jika Ditta melihat-lihat folder bookmarkku, dia akan bisa melihat-lihat tautan ke situs favorit aku. Tapi setelah mengingat kejadian beberapa malam terakhir, pikiran ku agak tenang sekarang. Meski begitu, beberapa situs yang pernah kulihat memiliki content yang tidak biasa, dan aku khawatir apakah itu akan sisukai Ditta. Aku harus mencoba menghapusnya hari ini saat dia tidak ada.

Saat kami sedang menarik karpet keluar kamar, petugas binatu datang untuk mengantarkan pakaian Ditta. Dia mengambilnya dan menuju ke kamarku untuk memilah-milahnya. Aku bekerja sendirian di kamarnya selama beberapa lama, ini kulakukan agar tukang yang kami sewa bisa segera memperbaiki kamarnya. Ditta masuk melalui kamar mandi yang menghubungkan kamar kami dengan mengenakan pakaiannya yang baru saja dikembalikan dari binatu. Cuaca diluar agak mendung dan agak dingin di kamarnya, angin masuk dari jendela yang pecah, tapi Ditta mengenakan tank top dan celana pendek, pakaian biasa tapi bukan pakaian yang biasa dia pakai di luar rumah.

“Untung mereka cepat membawa pakaianku kembali,” katanya sambil menoleh ke arahku. Celana pendeknya sangat pendek, dan sedikit lengkungan pantatnya mengintip dari bawah. Tank topnya berwarna putih tanpa bra di baliknya. Tonjolan putingnya terlihat jelas.

“Aku memindahkan beberapa baju ke laci lemari pakaian kakak.” Aku mengangguk, berusaha untuk tidak melihatnya. Dia tersenyum padaku dan dengan santai menyelipkan kedua jempolnya ke celananya, di bagian depan pinggangnya, menurunkannya sedikit kebawah. Saat itu aku dengan tengah menarik sebuah papan, lalu dia menurunkan bagian depan celananya lebih rendah lagi sampai terlihat bulu-bulu pendek, keriting, dan hitam yang menyembul keluar. Mengusapnya sebentar, lalu dia berkata, “Ade tadi lagi buka web cari bahan untuk PR bahasa Inggris dan melihat ada beberapa bookmark yang menarik tadi.” Dia berbalik dan berjalan kembali melalui kamar mandi ke kamarku. Aku bangkit dan mengikuti.

“Uh, apa sebenarnya yang kamu lihat?” Tanyaku, mencoba menyembunyikan rasa malu yang muncul dalam diriku, tapi juga senang.

“Hanya beberapa forum kelompok belajar Sastra,” katanya. Aku perlahan masuk ke ruangan dan dengan hati-hati melihat sekeliling lalu aku melihat layar monitor. Aku lihat dia sedang membuka situs analisis Hamlet. “Ade akan melanjutkan mengerjakan PR, sebaiknya kakak kembali ke sana, nanti dicari Ibu.” Dia mendorongku kembali ke kamar mandi dan menutup pintu di belakangku.

Aku kembali ke kamarnya, dan bertanya-tanya apa yang sedang Ditta lakukan. beberapa jam lagi sudah sore, dan aku memutuskan untuk berhenti sudah cukup untuk hari ini. Aku kembali ke kamarku dan menemukan Ditta berbaring di tempat tidurku, monitor komputer dimatikan. “Dah dapat yang ade butuhkan di online?” Tanyaku padanya

“Ya,” jawabnya. Dia berbaring di tempat tidur dan merentangkan lengannya ke belakangnya. Dia membuka kedua kakinya dan menekuk bagian bawah kakinya. Kain celana pendeknya tertarik erat di vaginanya, hampir tidak dapat menutupi tepi vaginanya. Di kedua sisinya, lengkungan lembut dan bulu di bagian luar bibir vaginanya terjepit. Sebelum aku sempat berpikir untuk melakukan sesuatu, dia berdiri dan menuju pintu. “Aku akan menonton TV sebentar,” katanya. Aku menarik napas dalam karena kecewa, dan dia tersenyum licik saat dia pergi.

Aku duduk di meja komputer dan menyalakan monitor dan melihat kalau adik perempuanku telah dengan sengaja atau lupa menutup halaman browser. Sudah jelas terlihat dari judul halaman web, dia telah berselancar dari bookmark porno yang ku simpan. Halaman pertama menunjukkan serangkaian foto seorang pria yang sedang meraba vagina. Melihat itu aku merasa takut sekaligus senang, aku sendirian di kamarku, lalu aku mengeluarkan penisku dari celana. Setelah foto tadi, aku mengklik jendela berikutnya. Di halaman ini, seorang gadis pirang sedang memberi handjob. Aku mengelus penisku dengan kecepatan yang stabil.

Tiba-tiba aku melihat gerakan di sudut mataku membuatku melirik ke arah pintu kamar mandi yang terbuka sedikit, berdiri di balik pintu, adik perempuanku, sedang mengintipku. Dia tahu aku melihatnya, dia membuka pintu dan melangkah masuk, lalu menutupnya. “Jangan berhenti karena Ade, tidak ada acara yang bagus di TV jadi ade mau santai-satai disini.” Dia berjalan ke arah tempat duduk di belakangku dan berdiri melihat dari balik bahuku. “Oh, Ade suka yang itu juga. Tadi ade melihat situs itu sebentar, itu adalah salah satu favorit ade.”

Dia mengulurkan tangan dari samping dan meraih mouse, mengklik jendela berikutnya. Di halaman ini menunjukkan gadis berambut cokelat yang duduk di samping seorang pria, sedang mem-blowjob penis si pria. Aku ingat itu adalah posisi yang persis sama seperti di malam kemarin. Dia mengklik di gambarnya. meng close-up bagian blowjob. Gadis itu mencengkeram penisnya dengan tangannya dan memasukkannya ke dalam mulutnya. “Mungkin itu akan membantu Kakak.” Aku menatapnya, lalu memusatkan perhatian pada komputer dan mulai membelai lagi. Dia mengklik kembali dan memilih gambar lain. Sementara gadis itu masih mengisap, sang pria mengulurkan tangan untuk menyentuh vaginanya, seperti yang telah kulakukan padanya.

Dia menyelipkan tangan kirinya ke bajuku dan menurunkannya ke atas perutku, lengannya melingkar di dadaku. Dia mengklik beberapa gambar lagi. Aku menatapnya lagi dan melihat matanya menatap penisku di tanganku. “Menikmati pertunjukannya?” Aku bertanya.

“Pasti, Kakak sedang bersenang-senang, Ade gak mau mengganggu.” Aku membelai sedikit lebih cepat, mataku sekarang menatap wajahnya bukan di layar. Aku ingat membayangkan saat aku orgasme di mulutnya. “Ada satu halaman lagi yang Ade tinggalkan untuk Kakak,” katanya. Itu adalah sebuah video. Dia menekan play dan melepaskan mouse, membungkus lengan satunya lagi di dadaku juga, sambil ikut melihat dari balik bahuku.

Dalam layar tampak gadis berambut hitam. Rambutnya panjang dan kulitnya tampak hampir sama putih seperti kulit Ditta. Dia menanggalkan pakaiannya, hanya menyisakan sepasang stoking hitam. Setelah beberapa pose, dia duduk di tempat tidur dan membentangkan kedua kakinya. Dia mengusap jarinya di vaginanya yang bercukur bersih, dan mulai bermasturbasi.

Ditta menurunkan tangan kanannya dan mengusap-usap pahaku saat aku terus onani. Dia menelusuri sampai jarinya hampir menyentuh buah zakar ku, lalu bergerak ke atas dan membelai punggung tanganku saat tanganku sedang bergerak. Cairan licin mulai meluncur turun dari ujung penisku. Ditta mengangkat jarinya dan menyekanya, lalu membawanya ke bibirnya. Dia memejamkan mata perlahan dan secara sensual menjilatnya. Dia meletakkan ujung jarinya di mulutnya dan menyedot apa yang tersisa, sambil sedikit bersuara untuk menggodaku.

Aku hampir tidak mempercayai. Selama bertahun-tahun aku mengenalnya sebagai Adikku, belum pernah dia berbuat begitu menggoda hasrat seksualku. Tapi sekarang di ruangan ini bersamaku, bagian lain dari dirinya sepertinya benar-benar terbangun.

Masih menatap wajahnya, aku melihat matanya kembali melihat ke komputer. Aku ikut melihat layar monitor dan melihat sekarang ada seorang pria masuk dan menjilati bibir vaginanya. Tangan Ditta kembali turun ke pahaku dan dengan cepat mengarah ke buah zakarku. Kami berdua menonton video, dan dengan aku sambil beronani, dia kemudian menggerakkan dua jarinya membelai bagian bawah buah zakarku. Jari-jarinya mengusap membuat lingkaran kecil di sekitar kantungnya, kemudian berhenti di bawahnya.

Di video itu, pria itu mulai menjentikkan lidahnya ke klitorisnya. Dia tahu bahwa aku tidak lama lagi akan orgasme, aku menggerakkan tanganku yang bebas dan menarik tangannya. Aku membimbing tangannya ke pangkal penisku, menggantikan tanganku dengan tangannya. Aku membimbing tangannya, dia mengerti dan menggerakkan tangannya naik turun. Sensasi nikmat dari tangannya yang halus mempercepat proses orgasme ku, tak membutuhkan waktu yang lama rasa nikmat itu sampai pada puncaknya, tubuhku mengejang dan lepaslah sperma kental dari lubang kemaluanku. Lepas jauh hingga ke tepi meja komputer dan sebagian meleleh mengotori tangannya. Aku melepaskan tangannya dan dia memelukku, menekan kuat tapi tidak terlalu rapat. Tanganku yang bebas bergerak kebelakangku dan meraih bahunya yang telanjang.

Dia mencium leherku, lalu mengusapkan lidahnya di telingaku. Dengan tangannya ia menangkupkan buah zakarku dan meremasnya pelan. “Sepertinya Kakak menghabiskan semua sperma kakak, tapi gak apa-apa, giliran ade bisa menunggu sampai nati malam.” Dia mencium leherku sekali lagi. “Mungkin ada acara yang menarik di TV sekarang, Kakak harus ikut dengan ade, kita nonton film sama-sama.” Saat hendak melepaskan tangannya dari buah zakarku, dia mengusapkan jari-jarinya dengan lembut ke kepala penisku dan kemudian menggenggam dari pangkalnya mengocoknya sebentar lalu berbalik meninggalkan aku.

******

Setelah makan malam kami duduk di ruang tamu dan menonton film bersama Ibu. Saat film baru setengah jalan, Ditta pamit untuk bersiap tidur. Masturbasi sore tadi cukup menguras tenagaku jadi aku putuskan untuk tetap menonton filmhingga selesai bersama ibu. Setelah film selesai giliran Ibu pergi tidur, lalu aku pun menyusul adikku ke kamar.

Memasuki kamarku, aku melihat Ditta berdiri di depan lemari pakaianku sedang memilih pakaiannya. Dia hanya mengenakan handuk mandi. Rambut hitamnya masih lembab dan erurai di punggungnya. Dia ahu aku masuk tapi dia tetap berdiri disana, hanya memutar kepalanya sedikit untuk memastikan bahwa itu aku. Ketika dia yakin telah melihatnya, senyum lembut muncul di wajahnya. Dia memejamkan mata dan memiringkan kepalanya, memalingkan muka dariku, seperti mengisyaratkan kepadaku mencium lehernya.

Aku berjalan ke belakangnya dan meletakkan tanganku di atas bahunya yang telanjang. Aku menundukkan kepalaku dan mulai mencium lehernya, naik ke atas sampai tepat di belakang telinganya.

Dia menarik handuknya dan membiarkannya jatuh ke lantai, membiarkannya telanjang di depanku. Dia berbalik ke arahku, merapatkan tubuhnya ke arahku dan menciumku. Untuk beberapa saat kami hanya berdiri sambil berciuman yang panas, dan aku menikmati bibir lembutnya dan lidahnya di mulutku. Lalu dia mendorongku menjauh.

Aku berdiri menatapnya yang telanjang di depan lemari, sama seperti saat aku pertama kali melihatnya telanjang beberapa hari yang lalu, tapi sekarang tak ada raut terkejut dan dia tidak berusaha menutupi ketelanjangannya. Kakinya panjang dan ramping. Meski masih muda dan kurus, tubuhnya telah tumbuh sempurna, payudara dan pantatnya kencang. Kulitnya putih dan lembut, belahan di antara pahanya masih rapat. Kulit putihnya tampak kontras dengan rambut hitamnya yang basah dan bulu-bulu hitamnya, yang tumbuh rapi menutupi bibir vaginanya yang masih rapat.

Dia membiarkanku beberapa saat untuk menatap tubuhnya. “Permisi,” katanya, lalu berjalan melewatiku. Dia naik ke tempat tidur, lalu perlahan merangkak, memberi aku pemandangan sempurna pantat dan vaginanya. Dia merangkak mendekati meja komputer dan mulai membuka website. Saat mencari halaman di browser, dengan jelas aku tahu apa yang dia cari, sambil dia menggoyang-goyangkan pantatnya. Dia menemukan situs yg dicari dan mulai memutar video yang dia pilih, lalu dia berbaring terlentang, matanya tertuju pada layar monitor. Tangannya mulai bergerak kearah dadanya, meremas dua gundukan itu sesaat sebelum mulai memainkan putingnya yang telah mengacung tegak. Puas bermain di dadanya tangannya lalu turun ke antara kedua kakinya dan mulai memainkan vaginanya. Jemarinya membuka bibir vaginanya, telunjuknya memainkan clitorisnya. Ku dengar nafasnya mulai berat dan cepat, jarinya semakin liar bermain di vaginanya dan mulai menelusuri lubangnya, sambil terus dia menatap layar komputer itu, lalu pinggulnya mulai menggeliat saat satu jarinya masuk di antara bibirnya yang basah dan perlahan-lahan masuk ke dalam vaginanya.

Dalam video tersebut, tampak seorang gadis duduk bersandar di kursi dengan kaki terbentang. Seorang pria berlutut di depannya dan menjentikkan lidahnya ke vagina si gadis. Saat lidah si pria menyentuh vagina si gadis di video itu, pinggul Ditta terangkat sedikit ke atas menyambut jari tangannya.

Ditta menoleh ke arahku, matanya yang sayu memberi isyarat padaku, dan tidak perlu diberi tahu dua kali. Aku naik ke tempat tidur dan memposisikan diriku di antara kedua lututnya. Wajahnya kembali menatap layar komputer dan tangannya tetap meraba-raba dirinya sendiri, aku menggerakkan tanganku dan mulai membelai bagian dalam pahanya, perlahan dan pasti bergerak ke arah vaginanya. Sama seperti saat dia membelai buah zakarku dengan ringan saat aku melakukan onani tadi, aku dengan ringan mengusapkan jariku di bagian luar bibir vaginanya, mulai menggelitik vaginanya.

Aku memajukan tubuhku lebih ke atas dan mulai menciumi pahanya, di sepanjang pahanya. Ketika aku hampir mencapai vaginanya, aku berhenti sejenak. Meski sudah beberapa kali melihat beberapa kali, aku belum pernah melihat vagina secara langsung dan dekat seperti ini. Sebagian besar gadis yang pernah kulihat online telah mencukur bulu-bulunya dengan bagian bibirnya yang hampir terbuka. Di antara kaki Ditta ada sesuatu yang sangat berbeda. Dagingnya tampak lembut namun kencang, sedikit ditutupi dengan bulu-bulu hitam yang masih jarang, rapi dan liar. Alih-alih terbuka, bibirnya tampak lebih ke dalam, menampakkan bagian dalam merah muda yang lembut. Aku merasakan napasku menghangatkan udara di antara mulutku dan mulut vaginanya. Bagian yang membuatku paling ku suka adalah bau harumnya, tidak seperti yang pernah kubayangkan sebelumnya.

Dengan hati-hati, aku menunduk dan mencium dengan lembut bibir kanan vaginanya. Aku berhenti sebentar kemudian mencium yang kiri, lalu lagi, lebih dalam lagi. Aku mengusap lidahku dari bawah vaginanya keatas megikuti lekukannya, sekali lagi, lagi, dan lagi. Setelah beberapa kali, aku mengarah ke bagian dalam bibir vaginanya, dan kemudian aku akhirnya dan secara cepat lidahku menggali di tengah lubangnya.

Rasa cairannya lebih enak dari pada bau yang di timbulkannya. Dia mengerang ringan, lalu melepaskan tangan dari vaginanya dan menggerakkan kedua tangannya ke kepalaku, mengusap jemarinya ke rambutku dan menekanku ke pinggulnya dengan perlahan. Aku mengikuti kemauannya, kembali menjelajahi vaginanya. Setelah beberapa saat, aku mengangkat kepalaku sedikit melihat wajahnya lalu mencium vaginanya dengan dalam seperti aku sedang berciuman dengan mulutnya, dengan bibirku menempel ke bibir vaginanya dan lidahku menyelinap masuk ke dalam lubang vaginanya, ku korek dengan lidahku isi yang ada didalamnya.

Dia sudah kehilangan minat dengan apa yang ada dalam video tersebut. Dia menarik rambutku dan menekan kepalaku dengan mulutku di atas vaginanya. ” Jilat itl ade kak,” dia mengerang kepadaku lalu menarik nafas dalam. Aku menjentikkan lidahku ke arah itilnya dan dengan lembut melingkarinya, sesekali mengait itilnya. Pinggulnya terangkat dan punggungnya melengkung menerima permainan mulut dan lidahku. Aku mengangkat satu tangan dan meraih pantatnya.

Aku mengangkat tangan satunya ke vaginanya sambil aku terus menjilati klitorisnya dan memasukkan jariku ke dalamnya. Aku membelai tekstur bagian dalam vaginanya. Pernapasannya kembali semakin cepat seiring erangan lembutnya, dan aku menutup bibirku di sekeliling klitorisnya, menghisapnya kuat. seketika aku mempercepat llidahku di itilnya, aku merasakan pantatnya menempel di genggamanku dan, sambil menekan kepala aku lebih erat dengan tangannya, menggiling mulutku dengan pinggulnya. Aku terus membangun kecepatan untuk merangsangnya, sampai akhirnya dia orgasme. Dengan seirama denyut nadi orgasmenya, punggungnya melengkung, pantatnya mengejang keras dan vaginanya meremas jariku erat-erat. Aku terus mengisap dan membelai untuk memenuhi setiap denyut orgasmenya dan merasakan cairannya mengalir dengan bebas ke jariku hingga luber ke tanganku. Lalu tubuhnya turun perlahan menikmati sisa-sisa rasa yng luar biasa itu.

Dan akhirnya dia mulai santai dan perlahan melepaskan kepalaku. Memegang tanganku yang jarinya masih di dalam vaginanya menahan sedikit lebih lama, aku menjilatkan lidahku dan dengan lembut menyapukan lidahku ke sekeliling vaginanya, menarik semua rasa manis yang aku bisa nikmati.

Tubuhnya masih tersentak sedikit setiap lidahku menyentuh itilnya, lalu kusudahi perbuatanku dan merangkak naik ke atas tubuhnya, ku cium bibirnya sebentar, lalu keningnya dan kucapkan: “Selamat tidur, Dek, sweet dream.”

To be Continued.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.