Berbagi Kamar Dengan Adik Perempuanku 7

BAB. VII

Terbukanya Sebuah Rahasia

Pagi ini aku bangun lebih pagi, kulihat adikku masih pulas dengan tidurnya. Ku putuskan untuk membiarkannya, lalu aku bangkit menuju kamar mandi, lima menit kemudian aku keluar dan berganti pakaian untuk berolah raga sebentar di taman.

Di taman aku bermain dengan willow dan pillow sebentar dan saat aku pulang willow membuntuti ku terus. Aku ingat hari ini ibuku ada janji dengan teman-temannya dan berencana pergi dan petang nanti baru kembali, jadi ku putuskan untuk membawa Willow pulang ke rumah. Dan harapanku sangat tinggi hari ini akan jauh lebih indah dari hari kemarin. Kami sudah sering melakukan ini, menyelinapkan Pillow ataupun willow ke rumah kami saat ibu tak ada dan selama ini aman aman saja. Sampai dirumah sebelum memasukkan willow aku memasukkan kucing-kucing kami ke dalam kandang.

Ibu sudah sudah pergi tampaknya sebab sekarang sudah pk 10. Aku tak tahu Ditta sudah bangun atau belum.

Saat aku menuju ruang tamu kulihat Ditta ada di sofa sedang bertelefon dengan seseorang.

“Ok kami jemput sebentar lagi,” katanya, lalu menutup telepon. “Nah Kakak sudah pulang, Ade mau minta tolong sama kakak , teman ade Suzzy mau main ke rumah hari ini dan karena dia baru pindah ke kota ini dan belum tahu jalan kita harus menjemputnya.” Tanpa menunggu jawabanku dia melompat dan berjalan keluar menuju mobilku. Aku tak berkutik, segera ku ambil tali kekang untuk willow dan ku ikat di belakang rumah. Ku sambar kunci mobil harapanku untuk hari ini tampaknya akan jauh dari menyenangkan. Karena akan ada orang lain bersama Ditta sepanjang hari, kami harus menyembunyikan tentang apa yang terjadi di antara kami berdua. Aku menghela napas dan mengikutinya.

Ditta baru masuk kuliah dua bulan yang lalu, dan mengalami kesulitan menyesuaikan diri. Dia ditinggalkan teman-teman lamanya dari sekolah menengah dan sangat depresi karenanya. Seminggu setelah dia pindah ke kamarku, dia akhirnya berteman dengan Suzzy. Aku tahu memiliki teman ini penting baginya, jadi aku harus bersikap mendukung.

Ditta telah memberitahuku sedikit tentang Suzzy. Dia baru pindah ke kota kami dan memiliki masalah yang sama dalam mencari teman baru.

Kami sampai di rumahnya dan Ditta berlari ke pintu. Saat dia dan Suzzy berjalan kembali ke mobil, aku melihat mengapa mereka menjadi teman. Mereka bisa jadi saudara perempuan, terutama karena mereka memakai pakaian serupa, t-shirt dan celana pendek ketat. Suzzy hanya sedikit lebih pendek dari Ditta, tapi terlihat sedikit lebih matang, dengan sosok lebih penuh dan wajah lebih bulat. Keduanya memiliki kulit yang putih dan bersih, wajah Suzzy bahkan lebih tajam dan cantik dari Ditta. Perbedaan yang paling mencolok di antara mereka adalah rambut mereka. Ditta memiliki rambut agak kemerahan yang panjang dan bergelombang, sementara Suzzy hitam pekat. Suzzy memakai kacamata dengan bingkai tebal, warna hitam, persegi panjang dengan lensa kecil.

Mereka masuk ke mobil dan Ditta mengenalkan kami. Aku langsung tahu bahwa Suzzy sama pemalunya dengan Ditta. Tidak heran jika mereka membutuhkan waktu dua bulan untuk berteman.
Kami sampai di rumah dan masuk ke dalam. Aku pergi kebelakang untuk melepas willow dan dia langsung mendekati Suzzy dengan penuh semangat, mengendus kakinya. Aku menjauhkannya, mencoba melepaskannya dari Suzzy.

“Gak apa-apa, aku suka anjing,” kata Suzzy. Dia menepuk-nepuk kepala Willow. Anjing itu langsung menyukai dia dan mulai mengikuti Suzzy.

Mereka menuju ke sofa untuk menonton film. Aku menuju ke kamarku untuk memberi mereka bersama.

Setelah beberapa lama, waktu hampir makan siang, jadi aku kembali ke ruang tamu untuk memeriksanya. Aku berjalan kearah sofa di sisi belakang dekat adikku. “Apakah kalian lapar?” Aku bertanya.

“Kami belum lapar,” kata Ditta. Dia melingkarkan lengannya di kakiku dan memelukku. “Kakak perlu sesuatu?”

“Gak, Cuma mau tau apa kalian mau makan.”

“Kalian akrab sekali,” kata Suzzy. “Apakah kalian berdua sangat dekat? Aku selalu bertanya-tanya bagaimana rasanya memiliki saudara laki-laki.”

“Yeah, kita cukup dekat,” sahut Ditta. “Dia peduli dan melindungiku. Baru aja kemarin dia membantu aku dengan proyek sekolahku.” Masih memeluk kakiku dengan satu tangan, dia menoleh dan menatapku, dagunya hampir menyentuh penisku.

“Keren, apalagi umurmu tak beda jauh dengan kakak mu ya,” kata Suzzy.

Ditta kembali menatap Suzzy. “Yeah, dia setahun lebih tua dari kita.”

“Ini bagian favorit aku,” kata Suzzy sambil melihat kembali filmnya. Suzzy dan Ditta kembali menonton film, dan aku hanya berdiri di sana, pikiranku kembali mengingat kejadian kemarin. Saat aku berdiri di depan sofa, dan Ditta menggodaku dengan lembut dan mencium penisku selama beberapa saat sampai favoritnya dimulai.

Aku dikagetkan oleh suara Suzzy. “Kamu suka film ini?” Aku tersadar dan dia menatapku.

“Uhm, aku tidak terlalu memperhatikan jalan ceritanya,” kataku. “Kalian bener gak mau makan siang?”

“Gak, kami sudah minum dan makan popcorn,” kata Ditta sambil menunjuk mangkuk di meja.

“Baiklah, nikmati filmnya,” kataku.

Suzzy dan Ditta menatapku lalu kembali melihat ke TV. Saat aku bergerak, penisku tanpa sengaja menyenggol bagian belakang kepala Ditta, dan menyadari bahwa aku telah membuat tenda besar di celanaku. Ini akibat aku memikirkan kejadian kemarin. Aku segera berjalan ke dapur secepat mungkin.

Apakah Suzzy melihatnya? Aku gak yakin. Belakangan ini Aku jadi terbiasa horny jika berada dekat Ditta di rumah, aku tak menyadari itu, bahkan saat Ditta sedang ada temannya. Aku malu membayangkan jika Suzzy bisa menebak apa yang Ditta dan aku lakukan. Suzzy menatap ku saat berbicara tadi, pastinya dia tahu kalau aku sedang ereksi. Dan dia duduk persis di sebelah adikku. Aku panik, tapi berusaha berpikir dengan wajar. Ada seratus alasan kenapa aku bisa horny. Bahkan dengan asumsi jika dia sudah melihatnya, tidak ada alasan bahwa dia berpikir itu ada hubungannya dengan Ditta. Aku lalu makan siang dan makan di dapur.

Segera film mereka berakhir Ditta melongokkan kepalanya di dapur. “Kami akan ke kamarmu sebentar, apa boleh?” aku mengangguk.

“Yakin.” Kataku setelah dia pergi, aku berpikir lagi, dan menyadari itu mungkin bukan hal yang bagus. Aku bergegas merapiakn bekas makanku, dan langsung berlari ke kamarku. Mereka belum sampai, aku mendengar mereka melalui kamar mandi penghubung di kamar mereka sedang di kamar Ditta. Tak berapa lama mereka berjalan keluar dari kamar mandi penghubung.

“Kamar kamu benar benar berantakan, Ditta,” kata Suzzy. “Gak heran kalau kamu membutuhkan beberapa pakaian baru, bagus sekali kakakmu mau berbagi kamarnya untuk sementara waktu.”

Mereka melihat aku saat mereka masuk. “Aku hanya ingin merapikan kamarku sebentar.”

“Jangan khawatir sama aku,” kata Suzzy. Dia duduk di tempat tidurku, Willow mengikutinya dan duduk di lantai di depannya. “Jadi kalian sudah tidur bersama selama dua minggu?” Tanya Suzzy padaku sambil menunjuk kantung tidur yang digulung di sudut kamar. Aku jadi teringat saat yang tidak nyaman di malam pertama ketika Ditta masuk ke kamarku. Malam berikutnya, Ditta berkeras aku tidur di tempat tidur, disanalah awal kejadian semua ini. Sejak itu kami berbagi tempat tidur setiap malam. Tapi karena Ibu tidak pernah masuk ke kamarku, aku malas merapikan dan membiarkannya tergeletak di pojok.

Ku sapukan pandanganku ke sekeliling kamarku, jantungku berdetak kencang saat aku melihatnya. Aku telah meinggalkan cukup banyak petunjuk yang bisa membuat Suzzy menduga-duga ada sebuah rahasia antara hubungan kakak beradik kami. Mataku melesat melintasi ruangan, mencoba melihat hal lain yang bisa memberi Suzzy petunjuk yang jelas. Mataku menatap komputer, dimana kemarin aku memperlihatkan bayak konten porno pada Ditta. Komputer itu sendiri memiliki banyak bukti rahasia kami berdua, termasuk beberapa halaman tentang hubungan incest antara kakak / adik. Pakaian Ditta dan celana pendek yang kemarin dia kenakan masih diletakkan di lantai, pada bagian selangkangannya menunjukkan bercak-bercak putih.

Sekali lagi aku memaksa diri untuk tetap tenang. Sementara bagiku semua hal itu adalah pengingat akan apa yang telah dilakukan Ditta dan aku, begitu juga untuk orang lain, jika mereka menyadarinya. Itu adalah poin-poin yang bisa membuat Suzzy menduga duga. Aku memberanikan diriku untuk menjawab pertanyaan Suzzy : “Yeah, agak gak nyaman memang tidur di lantai, tapi aku sudah terbiasa dengan itu.”

Lalu aku menyadari petunjuk lain yang mungkin telah kami tinggalkan. Kemarin aku di buat beberapa kali orgasme oleh Ditta dan beberapa sudah jatuh tercecer di seprai dan telah membuat noda yang cukup jelas, aku tidak memperdulikannya saat itu. Aku mencoba memandang berkeliling lagi mencari apakah ada noda lain di tempat tidurku. Di sepraiku, beberapa centi dari Suzzy duduk, ada garis bintik noda yang khas. Aku menatap Ditta dengan sedikit ekspresi takut, dan matanya mengikuti mataku melihat. Dia berjalan mendekat dan duduk di tempat tidur di samping Suzzy, dia meremas seprai berusaha menyembunyikannya.

“Pasti sulit berbagi kamar berdua, trus kalau salin pakain gimana pagi hari?” Tanya Suzzy.

Ditta menyahut sebelum aku bicara. “Biasanya, aku bangun lebih dulu, mengambil barang-barangku dan salin di kamar mandi dan dia bisa bersiap-siap di sini.” Dengan bodoh aku mengangguk setuju, tidak perlu mencoba untuk memperkuat ceritanya.

“Tetap saja, pasti agak canggung karena tidak memiliki banyak privasi. Pernah gak salah satu dari kalian kepergok sedang telanjang?”

Pikiranku kembali dimana aku pertama kali melihat Ditta telanjang, dan dia melihatku juga telanjang sehabis mandi. Kami saling menatap sedikit terkejut, saling bertemu telanjang untuk pertama kalinya sejak kecil. Ini adalah pertama kalinya aku melihat payudaranya yang lembut, pantatnya yang bulat dan tegas, rambut kemaluannya yang masih jarang dan garis jelas bibir vaginanya.

Ditta kembali menjawab lebih dulu. “Uhm, tidak, kita cukup berhati-hati untuk saling menjaga privasi kok.” Mataku bertemu dengan Ditta yang ada di sana, dan dia tidak bisa menahan senyum kepadaku.

Aku memutuskan bahwa kami perlu mengubah pokok pembicaraan. “Jadi, Suzzy, kamu baru pindah kesini?”

“Ya, ayahku dan aku pindah 3 bulan lalu.”

“Kamu suka?”

“Awalnya tidak, tapi sekarang aku lebih senang karena Ditta dan aku berteman.”

“Jadi kamu tinggal dengan ayahmu?”

“Ya, ibuku meninggal beberapa tahun yang lalu.”

“Aku turut berduka mendengarnya.” Itu adalah akhir dari percakapan, dan untuk sesaat kita semua hanya duduk diam. Aku memutuskan sudah waktunya aku meninggalkan mereka sendiri. “Kakak mau nonton TV.” Aku melangkah keluar kamar, tapi membiarkan pintunya terbuka sedikit. Masih mencemaskan apa yang mungkin diketahui Suzzy, aku berdiri di luar dan mendengarkan.

“Trus, kamu juga berbagi satu komputer itu?” tanya Suzzy.

“Ya, laptopku rusak karena air hujan, dan aku belum perbaiki,” jawab Ditta.

“Menemukan sesuatu yang menarik di sana?”

“Eh, apa maksudmu?” Aku bisa mendengar ketegangan dalam suara Ditta. Aku mencoba mencari alasan untuk bisa masuk dan memotong percakapan mereka.

“Biasanya anak cowok suka mencari sesuatu yang menarik di internet,” kata Suzzy canggung.

“Aku belum pernah menemukan hal-hal seperti itu,” kata Ditta, sambil mencoba menghentikan langkahnya.

“Kamu belum punya pacar?” Tanya Suzzy.

“Tidak, aku baru beberapa bulan masuk kuliah, gak ada yang serius, aku gak terlalu menyukai mereka.”

“Sama denganku, kebanyakan pria tidak sebaik kakakmu,” kata Suzzy. Mereka berdua tampak sedikit kacau, dan sekali lagi Suzzy berubah subjek. “Siapa yang butuh cowok? Apa kamu sudah pernah melihat porno secara online?”

Berdiri di lorong dekat pintu, aku hampir bisa menduga kedua wajah tersipu saat mereka berbicara. “Pernah beberapa kali,” kata Ditta malu-malu. Dia memang benar.

“Aku Sering sih, banyak yang aneh memang, tapi beberapa di antaranya mengubah aku.” Kedua gadis itu mulai cekikikan, mencoba mematahkan ketegangan. “Aku sangat menyukai adegan di mana seorang gadis di jilati dan di makan habis Miss V-nya, aku membayangkan jika seorang pria melakukannya padaku, seberapa enaknya ya?” Mereka terkikik lagi.

Setelah dua minggu terakhir ini, Ditta tahu betul bagaimana rasanya. Itu favoritnya.

“Aku yakin itu enak,” kata Ditta. Suaranya hampir pecah saat dia mengatakannya. Sejenak, mereka berbicara berbisik, dan aku tidak bisa mendengarnya. Suzzy sepertinya agak mendesak Ditta.

“Ayolah, katakan padaku, aku sudah memberitahumu favoritku Apa yang kau suka lihat?” Kata Suzzy.

“Yah, ada satu video yang aku suka, adegan seorang pria berbaring telanjang di tempat tidur dengan seorang gadis di atasnya, tepatnya miss V si gadis di wajah si prianya, dan Si pria sedang menjilati miss V nya sementara itu si gadis sedang mengisap penisnya. Si gadis duduk dan menekan miss Vnya ke Wajah si pria sambil si gadis membelai penisnya. ” Ini bukan video yang dia lihat, dia menggambarkan apa yang telah kami lakukan kemarin malam. “Mereka orgasme pada saat yang bersamaan penisnya berdenyut di tangannya dan spermanya meluncur seperti meriam, keluar dari penisnya mengenai tubuh wanita itu.” Ditta terdiam beberapa saat, tenggelam dalam pikirannya.

“Kedengarannya sangat menyenangkan,” kata Suzzy.

“kamu tahu, itu ternyata adalah bagian yang terbaik, saat dia orgasme begitu kuat semburannya, sperma-nya terasa begitu hangat saat menyentuh kulitmu.” Ditta berhenti, terkejut pada dirinya sendiri. “Aku rasa seperti itu rasanya,” dia menambahkan, mencoba menutupi kekagetannya. Hening beberapa saat.

Aku berharap bisa melihat ekspresi wajah Suzzy, kuharap aku bisa tahu apa yang dipikirkannya. Apakah Ditta telah membuka rahasia kami?

Ditta dengan cepat mengganti topik pembicaraan, dan keduanya mengoceh tentang hal ini itu, pembicaraan seks mereka sepertinya terlupakan. Setelah beberapa menit mendengarkan, aku memutuskan bahwa kami mungkin aman, dan masuk ke ruang tamu menonton TV.

Beberapa saat kemudian, kedua gadis itu keluar. “Kami butuh pendapat pria tentang pakaian baru Ditta yang kemarin kami beli,” kata Suzzy.

Ditta dan Suzzy pergi ke mall pada awal minggu dan membeli beberapa pakaian. Aku mengikuti mereka kembali ke kamarku. Aku tidak begitu tertarik pada mode, tapi juga ini demi Ditta. Plus, ini mungkin akan membuat Ditta yang acuh tak acuh pada penampilannya, menjadi lebih fashionable.

Ditta menuju ke lemari dan berganti pakaian. Aku duduk di kursi komputer membelakangi nya dan Suzzy di tempat tidur, sambil menggaruk-garuk kepala Willow dengan tenang, aku cukup heran kenapa Willow bisa begitu dekat dengan Suzzy. Pakaian pertama yang dia kenakan adalah jeans gelap dan blus warna hitam. Itu sangat sederhana dan membosankan. “Cakep.” kataku

Ditta berganti ke pakaian kedua. Itu adalah t-shirt ketat, lagi-lagi berwarna hitam, dengan tulisan warna putih besar di bagian depan. “Hmmm, ini cocok untukmu.”

“Kamu harusnya memberi penilaian yang lebih dari itu,” kata Suzzy. Aku mencoba memikirkan kata-kata yang tepat.

“Hitam benar-benar menunjukkan kulitmu yang bagus,” kataku. Itu ternyata cukup membuat Ditta tersenyum. Beberapa pakaian lagi menyusul, semua pakain tadi sepertinya lebih banyak terpengaruh oleh gaya berpakaian Suzzy. Aku membuat komentar yang rata-rata intinya sama, membosankan. Akhirnya, Ditta selesai dan duduk bersama Suzzy.

Suzzy menyenggol Ditta, cekikikan. “Tunjukkan padanya yang terakhir.”

Ditta tampak tegang. “Gak mau ah, itu hanya untuk kita bersenang-senang.”

“Ayolah, dia kan cowok, dia bisa memberimu pendapat seorang pria,” kata Suzzy. Aku cukup penasaran sekarang.

“Tapi dia Kakakku.” Apapun itu, aku tahu itu bukan masalah sebenarnya. Dia hanya tidak ingin menunjukkannya dengan ada Suzzy di sana.

“Ini bukan masalah, lagi pula, siapa lagi yang akan kamu mintai pendapat?”

Ditta jelas ingin menunjukkannya kepadaku tapi menunggu saat yang tepat, dan pendapat Suzzy tampaknya cukup masuk akal, dan dengan adanya Suzzy disana akan mengurangi kecurigaannya pada kami berdua. Ditta kembali ke lemari. Saat Suzzy dan aku duduk menunggu, aku menatap Suzzy. Kepalanya tertunduk, dia tersenyum kecil dan menatapku, tapi mengalihkan pandangannya saat aku melihat wajahnya. Dia tampak seperti kucing yang telah menelan burung kenari. Matanya bergerak ke arah lemari.

Aku berbalik dan Ditta berdiri di depanku. Dia mengenakan korset hitam di bagian atasnya, sambil meremas payudaranya. Rambutnya yang panjang dan kemerahan menutupi bahunya. Di bawah perutnya yang terbuka dan rata adalah sabuk garter dengan tali-tali yang menggantung. Celana dalam berwarna hitam tapi sebagian tembus pandang, dan rambut kemaluanya terlihat jelas di dalamnya. Sabuk garter menghubungkan stoking hitam yang menutupi kakinya yang indah.

Dia berpose sedikit, berbalik dan membungkuk sedikit untuk memamerkan pantatnya. Bulat putih dan pipinya menonjol keluar menjepit tali celana dalamnya.

“Apa yang kamu pikirkan?” Suzzy menyela.

Jika secara normal mungkin aku akan marah jika dia menunjukkan pakaian seperti itu pada pria lain atau pacarnya, tapi yang terjadi adalah aku yang terpana. Aku hampir tidak dapat menguasai diriku melihat adikku dengan busana yang sangat mengundang nafsu ini.

“Eh, itu…. eeeehmmm…… terlihat… cocok.. sekali dek.” Pikiran aku benar-benar terfokus pada tubuh Ditta. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menatapnya, dan Ditta kembali menatapku.

“Aku mau ke kamar mandi,” kata Suzzy dibelakangku. “Aku kembali beberapa menit lagi.” Saat dia masuk ke kamar mandi, aku sadar kami sekarang hanya berdua dengan Ditta. Aku berdiri dan melangkah mendekatinya. Dia berjinjit dan berbisik di telingaku.

“Ade beli ini untuk Kakak,” katanya. Lalu tanpa dapat ku cegah biibir kami bertemu dalam sebuah ciuman yang panas. Reflek satu tanganku meraih pantatnya dan tangan yang lain mulai mengusap vaginanya yang masih tertutup celana dalamnya. Tangannya meluncur ke bawah masuk melalui karet celana yang longgar dan meraih penisku. Dia menariknya keluar dari celanaku dan membelainya saat kami berciuman.

Kami berhenti ketika mendengar suara dari kamar mandi, lalu cepat-cepat memisahkan diri, mengantisipasi kembalinya Suzzy. Dengan satu gerakan cepat aku duduk di kursiku dan memasukkan penisku kembali, meletakkan tanganku agar bisa dengan mudah menyembunyikan tonjolannya. Aku mengalihkan perhatianku dengan gugup ke pintu kamar mandi.

tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Pintu itu tidak tertutup rapat sejak tadi. Tidak mungkin Suzzy lupa menutupnya, apa lagi dia sedang di rumah orang lain. Suzzy membuka pintu, dan masuk kembali dengan muka bersemu merah. Dia bahkan tidak menyiram closet sebelum dia masuk kamar lagi. Dia pasti tadi mengintip kami!

Dia mencoba untuk berkata meskipun tidak ada yang bertanya, tapi dengan cepat menahannya karena melihat ekspresi takut, marah dan diam Ditta, dan kami bertiga berdiri dalam suasana yang canggung. Senyumnya dipaksakan, dan dia merasa malu. “Maaf,” katanya pelan, nyaris tak terdengar. Kupikir jika dia tidak membutuhkan kami untuk mengantarnya pulang, dia pasti sudah lari keluar rumah saat itu juga.

“Aku tidak bermaksud mengintip kalian atau menjebakmu Ditta, maksudku, aku hanya mau melihat apakah kalian benar-benar benar sperti dugaanku, maksud aku …” Dia hampir menangis.

Aku sangat ketakutan. Gadis ini tahu. Tidak ada yang meragukannya sekarang. Dia tahu rahasia kami sekarang. Jika dia memberi tahu teman-teman kami di kampus, Ditta dan aku akan jadi bahan tertawaan dan dikucilkan. Kami tidak akan bisa menunjukkan wajah kami di Kampus. Dan jika Ibu tahu! Dia pasti akan marah besar dan memisahkan kami, bahkan mungkin mengirim salah satu dari kami untuk tinggal di tempat lain. Itu akan menghancurkan kami berdua.

Ditta juga hampir menangis. “Tolong jangan beritahu siapapun,” dia memohon kepada Suzzy.

“Tentu saja tidak, aku tidak akan pernah memberi tahu siapapun.” Lalu kami semua duduk dan saling menatap. Bahkan jika walaupun Suzzy tidak memberi tahu siapapun, ini bisa berarti akhir bagi Ditta dan aku. Kejutan ini saja bisa mematahkan kenangan yang selama ini kami alami.

“Kupikir sebaiknya kami mengantarmu pulang sekarang,” kata Ditta pada Suzzy. Sepertinya ini juga berarti akhir dari persahabatan singkat mereka.

“Maafkan aku, Ditta, aku masih ingin menjadi temanmu.”

“Aku tidak tahu apakah itu mungkin. Kapanpun aku melihatmu, aku akan teringat kejadian ini.”

“Pasti ada cara untuk membuat ini lebih baik,” Suzzy memohon. Aku rasa dia kecewa sendiri. Dia telah mematahkan satu persahabatan yang baru saja dia jalin. Dia mengingatkanku pada Ditta, muncul rasa kasihanku padanya. Namun, aku tidak melihat cara untuk memperbaikinya.

“Maafkan aku, Suzzy, seandainya kamu tidak memberi tahu siapapu, jika kalian masih berteman, ini sepertinya sebuah pistol yang diarahkan pada Ditta, hanya tinggal menunggu kapan picunya ditarik,” kataku.

Kami duduk diam sebentar, lalu aku berdiri, siap berangkat mengantar Suzzy pulang.

“Tunggu!” Kata Suzzy sambil berdiri. “Bagaimana kalau …” dia ragu-ragu, berbicara pelan. “Bagaimana jika kalian tahu hal seperti itu juga tentang aku? Bisakah kita tetap berteman?” Dia tampaknya benar-benar putus asa.

“Aku tidak tahu,” kataku. “Itu harus sesuatu yang bisa menghancurkan kamu sama buruknya dengan ini, dan kami harus tahu pasti bahwa itu benar.” Sepertinya Suzzy tidak akan memiliki rahasia semacam itu.

“Ada sesuatu, aku sudah melakukannya di rumahku cukup lama. Jika orang mengetahuinya, aku tidak akan pernah bisa menunjukkan wajahku lagi.” Suzzy bimbang tampaknya,antara dua kemungkinan memberi tahu kami atau tetap merahasiakannya, lalu dia mulai bercerita. “Sejak aku melakukan ini pertama kali, aku khawatir orang lain juga akan mengetahuinya, entah bagaimana caranya, itu membuat aku takut setiap hari.”

Aku berpikir sejenak. “Baiklah,” kataku. “Apa itu?” Sekalipun tidak bisa mengembalikan persahabatan mereka, rahasia yang dimilikinya mungkin setidaknya bisa memastikan dia diam.

“Aku harus menunjukkannya padamu,” katanya,” ini bukan sebuah cerita.” Aku pindah ke sebelah Ditta. Suzzy duduk di kursi komputer, dia meletakkan dompetnya di sampingnya. Dia meletakkan tangannya di atas celananya seolah akan membuka kancingnya, tapi ragu-ragu. “Aku tidak pernah membayangkan melakukan ini di depan orang lain sebelumnya,” katanya. “Butuh beberapa saat sebelum aku mulai.” Ditta dan aku duduk di tempat tidur saat Suzzy membuka celananya. Dia memejamkan mata, mengambil nafas sedalam-dalamnya lalu menghembuskannya dan menarik lepas celana pendeknya sekaligus dengan celana dalamnya.

Untuk pertama kalinya, aku menatap tubuh Suzzy. Kulitnya tampak sehalus Ditta, tampak lembut. Dengan rambut pendek dan hitamnya, dia mengingatkanku pada Putri Salju. Masih tertutup bajunya, aku bisa tahu payudaranya lebih besar dari pada Ditta. Melihatnya dengan pakaian sekolah biasa, aku tidak memperhatikannya, tapi di kaos yang dia pakai hari ini, ukurannya pasti cup D. Dia memiliki lapisan tipis lemak di perutnya tapi tak begitu terlihat. Meski pinggangnya lebih besar dari pada Ditta, begitu juga pinggulnya, membuat tubuhnya terlihat lebih dewasa.

Di antara kakinya, rambut kemaluannya sehitam rambut di kepalanya. Bahkan terlihat lebih gelap, lebih lebat dari pada Ditta. Dari pengalamanku dengan Ditta, sepertinya Suzzy sudah terangsang, karena bibir vaginanya terbuka lebar dan berkilau.

Sampai saat ini, aku baru saja melihat Suzzy sebagai pesaing untuk Ditta. Melihatnya tiba-tiba telanjang bulat di depanku, aku tidak tahu apa yang kurasakan tentang dirinya.

“Aku perlu sedikit persiapan dulu,” kata Suzzy kepada kami. Dia mulai mengusap vaginanya, matanya tertutup. Aku masih tidak tahu apa yang akan di lakukannya, atau apa yang menurutnya sama rusaknya dengan incest. Dia terus memainkan sendiri tangannya di vagina berbulunya, tubuhnya mulai sedikit rileks.

Dia berhenti dan membuka matanya, melihat kami berdua, tampak lebih malu daripada yang aku bisa ingat melihat saat melihat Ditta. “Tolong jangan anggap aku kotor,” kata Suzzy. Dia membalikkan kursi membelakangi kami dan membungkuk meraih dompetnya dan memain-mainkan sebentar. Dia berbalik menghadap kami lagi, bersandar dan membentangkan kakinya lagi. Aku melihat ada sesuatu yang melumuri seluruh jari tangan kirinya dan hampir seluruh telapak tangannya. Kelihatannya lengket, dan dia mengangkat tangannya agar tidak menetes. Dia mengulurkan tangannya ke bawah dan mengoleskannya ke vaginanya.

Dia meraih tangannya, dan tiba-tiba aku menyadari apa yang sedang dilakukannya. Terkejut, aku menatap Ditta di sampingku. Matanya terbuka lebar dan menatap apa yang sedang terjadi, dan tangannya mencengkeram tanganku.

Tangan Suzzy meraih anjingku Willow, yang sedari tadi berdiri dekat Suzzy. Terjawab sudah pertanyaanku kenapa sedari tadi Willow mengikuti Suzzy terus, aku saja mencium bau itu. Aroma madu itu harum. Suzzy menarik Willow di antara kedua kakinya dengan madu di tangannya dan mengoleskan sebagian ke atas pahanya. Lidah Willow langsung menjilati madu, mengikuti lelehan di paha Suzzy sampai jilatan Willow berakhir di tepi bibir Vagina Suzzy. Agak ragu sejenak, Willow mulai menjilati vagina Suzzy. Membersihkannya, Suzzy mengulurkan tangannya lagi dan mengolesnya lagi, kali ini jauh di antara bibir vaginanya yang gemuk. Tubuhnya melengkung dan memejamkan mata.

Lidah Willow masuk jauh ke dalam, mencari setiap tetes madu terakhir. Suzzy terengah-engah, dan dengan tangannya yang bebas Suzzy membelai vaginanya di seputar lidah Willow. Dengan dua jari, dia perlahan memisahkan bibirnya, membiarkan Willow masuk lebih dalam dan dalam. Sambil mendorongnya ke samping sebentar, Suzzy menghabiskan sisa madu itu ke vaginanya, dan Willow menjilat lagi. Melanjutkan untuk membentangkan diri, dia meraih tangannya yang lain dan mulai menggosok-gosok dengan kuat pada klitorisnya.

Butuh Cukup waktu untuk sampai orgasme. Pantatnya terangkat sedikit dari kursi dan dia hampir tidak bisa menahan diri untuk tidak meremas kepala Willow yang berada di antara kedua pahanya. Willow, yang semula sama sekali tidak terpengaruh, mulai terseret secara sexual oleh aroma yang di keluarkan dari vagina Suzzy, aroma feromon betina, lidahnya yang panjang dan gemuk hampir lenyap jauh di dalam vagina Suzzy dalam setiap jilatan. Aku mulai melihat ada cairan menetes dari kemaluan Willow, tampaknya anjing itu juga mulai terangsang.

Vagian Suzzy telah bersih dari madu sekaramg tapi Willow masih tetap menjilati Vagina Suzzy. Tiba-tiba Suzzy bangkit dan turun kelantai dengan posisi merangkak membelakangi Willow, dengan kepalanya hampir menempel di lantai, “ aku perlu bantal” katanya. Ditta mengambil bantal yang terdekat dengannya. Melihat posisi Suzzy seperti seekor anjing betina, dengan cepat Willow menaiki punggung Suzzy dan secara naluriah patatnya bergerak memompa. Aku benar benar terkesima akan adegan mereka berdua. Kami hanya bisa saling berpandangan. Kulihat sekarang penis Willow sudah hampir masuk diantara belahan Vagina Suzzy, dan ketika telah masuk ujungnya, pantat Willow bergerak begitu cepat sampai Suzzy menjerit cukup keras, beberapa menit kemudian kulihat Willow mulai melemah gerakanya tanda anjing itu telah mencapai puncaknya dan telah menyiramkan benih keturunannya di Vagina Suzzy. Sementara nafas Suzzy terlihat semakin berat dan cepat, saat Willow hendak berbalik Suzzy menggerakkan tangannya meraih kaki belakang Willow, menahannya untuk tidak bergerak lalu pinggulnya berkedut beberapa kali dan akhirnya diam.

Mereka masih terikat bersama selama beberapa saat, dengan pantat mereka saling menempel ketat. Llu terdengar bunyi “PLOP” terlepaslah penis Willow dari vagina Suzzy. Willow bergerak menjilati kemaluannya, dan dari vagina Suzzy banyak keluar sperma anjing hingga menetes kelantai.

Suzzy bangkit menyambar celana pendeknya dan berlari ke kamar mandi.
Dia kembali berpakaian lengkap dan berdiri di depan kami, seolah menunggu keputusan.

“Kamu melakukan juga di rumah?” Aku tergagap.

“Yah, aku punya seekor golden retriever dirumah,dan aku melihatnya di Internet, dan begitu aku mencobanya, aku sangat ketagihan sehingga aku terus melakukannya. Setiap kali anjingku mulai mengendus aku, aku sudah dapat menebaknya dan kami melakukannya saat ayahku ada atau tidak ada dirumah, dengan sembunyi-sembunyi tentunya. Aku tahu setiap laki-laki pasti akan menganggapnya kotor. Aku sudah mencoba untuk berhenti, tapi setiap kali aku terangsang dan aku melakukannya lagi. ”

Suzzy sudah hampir menangis lagi, sepertinya menyesali keputusannya untuk menunjukkan rahasianya pada kami. Tak satu pun dari kita tahu benar apa yang harus dilakukan selanjutnya. Kita semua telah melihat rahasia pribadi masing-masing, dan sama memalukannya. Ditta akhirnya mematahkan ketegangan. Dia berdiri dan memeluk Suzzy. Suzzy mulai menangis dan sepertinya Ditta juga. Ketegangan tampak perlahan mulai mencair. Ditta menatapku dengan penuh rasa ingin tahu.

“Aku pikir setiap orang memiliki rahasia yang mereka pertahankan dari orang-orang yang suka menghakimi orang lain. Jika terasa benar dan tidak ada yang terluka, aku tidak melihat itu sebagai sesuatu yang buruk.”

“Jadi kita baik-baik saja?” Tanya Suzzy.

“Kurasa begitu,” kataku.

Kami semua keluar dari kamar dan duduk di sofa setelah Ditta dan Suzzy merapihkan diri. Kami menghabiskan satu jam menonton TV tanpa suara, masing masing tenggelam dalam pikirannya dari apa yang telah terjadi. Kami mengantar pulang Suzzy sebelum Ibu kembali dari acara dengan teman-temanya. Saat kami menurunkannya, aku bertanya-tanya apakah Ditta dan Suzzy masih bisa berteman. Aku berharap mereka akan melakukanny

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.