Kebahagiaanku yang Nyata 5

05.00.

“Thunder feel the thunder..

Lightning and the thunder

Thunder feel the thun-..”

Tap, kumatikan alarm bersoundtrack Thunder milik Imagine Dragon. Ah masih jam 5 ini rupanya, alarmnya aja udah bangun, eh yang punya malah belum bangun, gimana sih kak siska ini. Karena tidurku sudah terganggu oleh alarm kak siska barusan, yah mau gak mau aku jadi yang bangun pertama di rumah ini.

“Hoaaeeem…” Samar-samar aku membuka mataku, terbangun juga aku akhirnya, kukucek perlahan-lahan sambil memperhatikan sekitar. Kuregangkan otot-ototku di bagian kaki dan tangan, kutarik kuat-kuat agar mereka merengang. Ku toleh ke sebelah kiri tubuhku, kulihat sesosok bidadari dengan wajah anggun dan polos masih tidur disisiku menghadap kearahku.

“Ahh kak siska, tidur aja masih tetep cantik, gak ada yang ngalahin dah cantiknya kakak.” Gumamku dalam hati sambil terus melihat lekat-lekat, kuperhatikan tiap inci wajah rupawannya, tak se-inci pun aku menemukan kecacatan. Kini ku geser perlahan-lahan posisiku sehingga mendekati wajahnya.

“Kak andai aja aku bukan adikmu, udah aku nikahin kali yak.” Ucapku lagi dalam hati, yang mana aku hanya bisa mengaguminya dari dekat saja. Sedekat kali ini , yaitu wajahku dan wajahnya bertemu dalam satu garis yang lurus.

Cupp…

“Makasih kak, udah baik ke aku selama ini.” Sebuah kecupan manis ku tujukan pada pipinya yang halus itu. Itu adalah kecupanku yang pertama kali pada pipi nya.

“Enak juga cium pipinya kak siska, jadi pengen nambah hahaha.” Celetukku dalam hati, nanggung juga sih pikirku kalau hanya pipi aja yang kucium. Kuperhatikan bibirnya yang seksi itu, sambil berpikir aku akan mengecupnya atau tidak.

“Gimana nih, cium gak ya, tar takutnya kalo pas nyium terus kak siska nya bangun kan bisa berabe nih.” Pikirku kembali dengan apa yang akan kulakukan sekarang, memang nekat sih kali ini. Tapi rasa penasaran sudah kepalang tanggung dan ku cium saja, bodo amat udah kepalang tanggung.

Cupp…

Bibir kami bertemu satu sama lain, kudiamkan lama bibirku ini sambil mendengarkan deru nafasnya yang masih beraturan, pertanda kalau kak siska masih nyenyak tidurnya. Ternyata begini ya rasanya nyium bibir cewek cantik, ga bisa digambarkan lagi. Seakan-akan mau pingsan aku rasanya karena terlalu seneng kaya begini. Ciuman di bibir itu adalah yang pertama bagiku, bagaimana tidak aku aja pacar gak punya, jadi kini bibir ku telah diambil keperjakaannya oleh kak siska.

Cukup lama aku melakukan ciuman pertama ku, asik juga rasa bibirnya kak siska. Karena sudah hampir jam 6 aku akhirnya menyudahi acara ciumanku dengan kak siska, kemudian aku keluar dari kamar kak siska. Segera saja aku ke kamar mandi dan dubasuh mukaku dengan air dingin, “Ahh segar sekali, eh tapi, ini bekas bibir kak siska kan jadi ilang, bego lu syah.” Umpatku dalam hati, menyesal aku membasuhnya.

POV kak siska

“Thunder feel the thunder..

Lightning and the thunder

Thunder feel the thun-..”

Sayup-sayup kudengar alarmku berbunyi, masih dengan mata yang sipit aku hendak mematikannya. Belum sampai aku mau beranjak dari tempat tidurku, ternyata arsyah sudah mematikannya. Ahh yasudahlah, aku malah berterima kasih kepadanya karena sudah mematikannya, jadi aku gak usah bangkit dari tempat tidurku.

Aku jadi semangat untuk melanjutkan tidurku kali ini dan tetap kupejamkan mataku. Setelah mematikan alarm, kini arsyah kembali ke tempat tidurku, kurasakan guncangan spring bed pertanda ia berbaring lagi di sebelahku. Namun aku tetaplah aku, meskipun berniat tidur lagi, tapi kalau sudah kebangun gini aku susah untuk terlelap kembali. Jadilah aku hanya bisa memejamkan mata saja.

Gsrek.. gsrekk..

“Nih anak ngapain lagi, kok kayanya dia geser jadi dekat aku.” Kurasakan spring bed ku bergoyang-goyang dan terdengar suara orang bergeser.

Adikku terdiam cukup lama, entah sedang melakukan apa dia yang pasti sekarang keadannya hening. “Awas aja kalo dia onani di kasurku!” Ucapku dalam hati, mencegah kejadian yang tak diinginkan. Perlahan-lahan ada gerakan seperti mendekat dan…

Cupp…

Sebuah ciuman hangat mendarat di pipiku, lucu sih rasanya dicium Arsyah. Udah lama juga aku ga dicium pipi oleh adikku ini, kangen juga rasanya kalo inget dulu waktu masih kecil. Kita sering maen bareng, sering mandi bareng, sering tidur bareng, semuanya serba bareng waktu dulu. Tapi sekarang, gara-gara waktu dan usia lah yang telah memisahkan batas-batas diantara kami. Kebiasaan yang waktu kecil sering kita lakukan sekarang jadi kita hentikan. Terdiam cukup lama aku mengenang kejadian masa lalu aku dan adikku. Begitu juga adikku, dia hening tanpa ada gerakan ataupun kata-kata, namun tiba-tiba…

Cupp…

Kaget aku merasakannya, kali ini bukan pipi yang dicium arsyah, namun bibirku yang menjadi sasarannya. Aku hanya bisa diam saja diperlakukan seperti itu oleh Arsyah adikku sendiri. Kubuka sedikit mataku dengan mengintip-intip melihat wajah adikku yang sangat dekat dengan wajahku. “Haruskah aku marah atau haruskah aku diam saja?” pertanyaan itu muncul di benakku saat ini, bingung aku dibuatnya. Jika aku sekarang terbangun dan memarahinya, pasti Arsyah langsung malu, kemudian hubungan kami sebagai adik-kakak pasti akan ada jarak. Hal seperti hubungan kami yang akan merenggang lah yang aku takutkan, jadi aku lebih memilih berdiam saja. Menikmati ciuman yang diberikan adikku, mungkin ini yang pertama dalam hidupnya, karena dapat kurasakan dia seperti grogi menciumku. “Dasar ABG kurang jam terbang hahahaha” ledekku dalam hati.

Cukup lama Arsyah menciumku, dan aku hanya bisa diam pasrah menerimanya. Akhirnya Arsyah mencukupkan ciumannya, sepertinya dia juga sudah capek dan bosan melakukannya. Samar-samar kudengar ia membisikkan sebuah kalimat yang membuatku kasihan “Terima kasih kak, ini baru pertama kalinya aku nyium cewek, dan teryata cewe nya itu kakak.” Kemudian ia pun keluar kamar ku dan sepertinya adikku ke kamar mandi.

“Ahh adikku udah berani juga ya sekarang.”

********************************

Setelah aku mencuci muka ku, langsung saja aku keluar rumah, melakukan pemanasan,. Yap aku ingin jogging pagi, sudah lama aku gak jogging keliling komplek. Sejenak kulihat-lihat komplek rumahku ini ternyata rame kalo pagi kaya begini. Kebanyakan mereka sedang olahraga juga sekedar jalan cepat atau jogging, olahraga pagi ini didominasi oleh orang dewasa, hanya aku pemuda yang berolahraga di pagi hari. Mataku tertuju pada kumpulan Mahmud yang sedang jogging, mereka berlari-lari kecil sambil membuat video yang kuyakini untuk diupload di instastory,”Dasar mamah muda sosialita.”Gumamku dalam hati, sambil melihat mereka berlari yang membuat harga susu naik turun.Kufokuskan kembali pada jogging ku, 3 kali aku berputar mengitari komplek perumahanku, yah bisa dihitung sih sekitar 3 km lah aku jogging pagi ini. Kusudahi acara jogging pagi ku kali ini, cukup lah untuk cuci mata pagi-pagi ngeliat mamah muda seger-seger hahaha.

Usai jogging aku kembali ke rumahku, kudapati kak siska sudah siap-siap untuk mandi. Aku berjalan perlahan-lahan melewatinya niatku menuju kamarku, aku takut jika ia menyadari kalau tadi pagi sudah kucuri ciuman di bibirnya.

“Pagi kak.” Kuberanikan diri untuk menyapanya agar tertutupi rasa grogi ku

“Ehh adek, cie rajin amat pagi-pagi udah jogging.” Ucapnya dengan senyum manis yang khas terlukis di wajahnya

“Iya nih kak, biar sehat dan seger hehehe.”

“Bagus-bagus, kapan-kapan kakak ajakin dong dek, kangen juga nih lama ga jogging, okee?” tukasnya sambil menutup pintu kamar mandi.

“Siap kak.” Fiuuuuh, ternyata kak siska tidak tau, dugaanku salah, kak siska tidak bertanya apa-apa kepadaku, untunglah.

Setelah kak siska mandi, aku langsung mengisi kamar mandi karena sudah tidak tahan dengan keringatku, kuguyurkan air dingin ke tubuhku, nikmat sekali. Cukup 10 menit aku mandi, langsung aku memakai seragam sekolahku, dan menyiapkan buku-buku pelajaran. Kulihat kak siska sedang menyiapkan sarapan, kali ini sarapan roti, ia mengoleskan nuttela diatas nya, lumayanlah buat ganjal perut. Kulihat jadwal pelajaranku hari ini, yaitu Bahasa Indonesia, Biologi, Fisika.

“Wah ada biologi nih, ketemu bu Nita hari ini, harus jadi anak baik dulu hari ini.” ucapku gembira dalam hati karena nanti ada bu Nita yang mengisi biologi. Segera saja aku sarapan kemudian berangkat nebeng kak Siska. Tapi hari ini mobil dibawa kakakku karena ia pulang agak malaman gara-gara lembur. Aku iya-in saja, toh aku juga bisa naik angkot pulangnya nanti.

*Ting tung “Saatnya jam pelajaran pertama di mulai.” Tung ting *

Aku kemudian masuk kedalam kelasku setelah mendengar bel tanda masuk, tas kutaruh di tempat yang sudah dibooking oleh sahabat baikku, yap Farah. Namun saat aku ingin duduk, kulihat wajah farah memerah dan matanya terlihat sayu seperti orang yang menangis. Tak tega aku melihatnya, langsung saja kuberikan tisu yang sengaja kubawa dari rumah. Farah dan aku memang teman yang sangat dekat sekali, kami dianggap seperti orang pacaran karena kemana-mana selalu bersamanya. Alasanku mengapa selalu kemana-mana bersamanya karena dia orangnya baik,sabar,penyayang, dan rumahnya berada di komplek sebelah. Lama juga ia curhat kepadaku tentang masalahnya dan aku hanya bisa memberikan saran-saran ringan kepadanya. Tak terasa satu jam pelajaran telah kulalui tanpa mendapat ilmu apapun di kepalaku hari ini. Akhirnya bel istirahat pun berkumandang membuat teman-temanku berhamburan keluar kelas. Aku juga berniat ke kantin sebenarnya, namun belum juga keluar kelas, tiba-tiba bu Nita memanggilku.

“Arsyah, kesini sebentar.”

“Iya bu ada apa ya?” Kuhampiri bu Nita yang tengah duduk di bangku depan kelasku.

“Temenin ibu ke kantin yuk, ibu traktir deh terserah mau beli apa.”

Wah pucuk dicinta ulam pun tiba nih, “Terima kasih bu, apa tidak apa-apa bu, takut ngerpotin saya bu.”

“Udahh gapapa, saya juga laper ini, butuh temen ngobrol juga.”

Aku berjalan berdampingan bersama bu Nita, semua mata tertuju kepada kami disepanjang lorong sekolah. Bukan kami sih, lebih tepatnya ke bu Nita, yang tampil sangat cantik hari ini, beruntung sekali aku hari ini bisa diajak makan bu Nita. Tibalah kami di kantin, langsung saja kupesan nasi uduk komplit dan bu Nita memesan nasi soto. Sembari menunggu kami saling mengobrol ringan tentang tugasku di biologi.

“Gimana syah, tugasnya yang kemarin ada yang susah?” Tanyanya memecah kebisuan diantara kami

“Ehh, nggak ada bu, sudah saya kerjakan semua kemarin.”

“Wah bagus deh kalau gitu, cepet juga kamu ngerjain ya, padahal banyak itu.”

“Hehehe, saya semangat kok bu, kalo tugasnya dari bu Nita pasti saya langsung semangat.” Jawabku dengan penuh semangat membara kepadanya.

“Hahahaha, bisa aja sih Arsyah, jangan lupa ya hari sabtu sore, ibu tunggu dikosan.”

“Kalau sampai kamu ga ngumpulin, ibu gak mau bantuin lagi.” Ancamnya kepadaku, aku sih nurut saja biar nilaiku terangkat

“Siap bu laksanakan.” Kuhabiskan makan ku begitu pula dengan bu Nita

“Terima kasih bu, terbaik deh bu Nita, jangan sungkan-sungkan ya bu ngajak saya makan lagi heheheh.”

“Ihhh siapa juga yang mau ngajak kamu lagi nanti, harusnya kamu yang ngajakin, biar impas hihihi.” Cukup kaget aku mendengarnya, apakah ini sebuah kode? Ini masih menjadi misteri.

“Bercanda kok syah hihihi, dah yuk kembali ke kelas.” Sautnya kepadaku, aku masih memikirkan kata-katanya yang terngiang di otakku.

Kami berdua akhirnya kembali ke kelas, karena bel masuk sudah berbunyi sedari tadi. Begitu masuk kelas, semua pandangan kaum lelaki langsung mengarah padaku, dipandanginya diriku seperti mangsa yang siap untuk diterkam. Mungkin mereka tidak rela jika guru favorit nya mengajak makan seorang pemuda bernama Arsyah. Aku langsung duduk di samping Farah, dan langsung si Feri dan Ray yang notabene duduk di bangku depan kami berbalik badan menanyaiku kenapa bisa diajak bu Nita. Kujawab pertanyaan dari barisan fans bu Nita satu-persatu dengan santainya.

“Heh lu kok bisa diajak bu Nita sih.” Feri bertanya kepadaku

“Iya lu pakai guna-guna ya? Parah lu syah, guru sendiri di guna-guna.” Kali ini Ray yang menginterogasiku.

“Begini ya teman-temanku fans ibu Nita, gue sebenarnya diajakin bu Nita tadi gara-gara lapar terus gaada temen jadinya gue yang disuruh nemenin.” Jelasku pada mereka berdua, semoga saja mereka paham dan tidak menanyaiku.

“Ahh boong lu syah, bilang aja pakai guna-guna, bu Nita tuh ga pernah tuh ngajakin cowok makan disekolah ini buat makan, baru pertama kali ini Cuma elu doang.” Ray masih tidak percaya dengan omonganku

“Iya nih selama gue melakukan pengamatan ke bu Nita, baru lu doang yang diajak makan, ahh sial lo syah bikin iri kita-kita aja dah.” Ujar Feri menambahkan apa yang dikatakan Ray, namun aku hanya bisa menjawab seadanya sesuai fakta. Ku perlakukan seperti itu terus akhirnya mereka capek juga menanyaiku, farah disebelahku hanya bisa tertawa manis mendengar kelakuan teman-temannya yang aneh seperti ini.

*Ting tung “seluruh pelajaran hari ini telah selesai, sampai jumpa besok pagi dengan semangat belajar baru” Tung ting *

Tepat pukul 16.00 bel berbunyi, lantas ku kemasi buku ku kedalam tas, kemudian segera aku meninggalkan kelasku untuk pulang ke rumah. Didepan sekolahku aku menunggu supir pribadiku untuk menjemput, yap, siapa lagi kalo bukan abang supir angkot. 20 menit aku menghabiskan waktu di dalam angkot yang penuh sesak dengan anak-anak sekolah, akhirnya aku menginjakkan kaki lagi di rumahku ini.

“Ahh capeknya hari ini, pusing kepala di hajar fisika jam terakhir tadi.” Ucapku sambil merebahkan diri di tempat tidurku sendiri, kulolosi satu persatu seragamku, dan kini aku hanya bercelana kolor saja.

Ngapain ya enaknya, bingung juga jam segini mau ngapain. Tugas udah selesai semua, cucian udah ga ada, rumah udah bersih. Bikin kegiatan apaan ya enaknya, ahh, mending nonton film aja dah di laptopnya kak siska. Dengan langkah gontai aku menuju kamar kak siska, lalu kubuka sebuah situs penyedia film terkenal laki21.co , lama aku mencari-cari film yang bisa bikin otak mikir. Hingga sampai akhirnya aku menemukannya, film predestination ini keren kalo ngeliat reviewnya, kuputuskan untuk menontonnya. Gila sih ini film, ceritanya tentang paradoks kehidupannya sendiri, best movie lah ini bikin puyeng kepala juga kalo ga memahami bener-bener. Di tengah-tengah menonton, kudengar kak siska sudah pulang, langsung saja aku keluar dan membuka gerbangnya tak mau lagi aku membiarkannya ber lama-lama menunggu. Lantas aku kembali ke kamar kak siska kemudian kulanjutkan ritual menontonku yang tertunda. Kak siska yang telah usai memarkirkan mobilnya kini memilih untuk merebahkan diri di kasurnya sambil memainkan hp nya.

“Nonton apaan sih dek?” tanyanya memecah keheningan di kamar kak siska

“Ohh ini film predestination kak, bagus nih, film yang bikin kita mikir, the best dah kak.”

“Ada romance nya gak dek? Kalo gaada kakak males nonton.”

“Buseet, ini sih Cuma dikit, kalo mau banyak nonton drakor aja sono.”

“Hihihihi, mending nonton drakor dek, udah ganteng-ganteng, filmnya bikin mewek, romance banget dah, kamu kakak saranin nonton biar bisa cari cewe.” Dasar kak siska, malah nyuruh aku nonton drakor yang jelas-jelas aku gak suka.

“Ahh males kak nonton drakor, yee kakak juga jomblo gitu cari juga sana, malah nyuruh-nyuruh aku.”

“Ihhh udah ada yeee, wleek…” ucapnya mengejekku sambil mengeluarkan lidah nya.

“Ahh ga percaya, bawa sini dulu, baru aku percaya kak hahahaha.”

“Huuu, kalo kakak kenalin jangan sakit hati ya kamu dek.” Ancamnya padaku kali ini

“Ga bakalan dah kak, itu sih kalo kakak ada hahaha.” Semoga saja tidak ada, bisa sakit aku melihatnya, setidaknya biar kunikmati dulu kak siska, kunikmati rasa sayangnya hehehe.

“Masih lama dek?”

“Gak kok kurang 5 menit nih, emang ada apa kak?”

“Ohhh yaudah, gapapa kok kakak tungguin kalo gitu.”

5 menit kemudian..

“Nahh akhirnya selesai, serius dah kak bagus banget ini kakak harus nonton pokoknya!” ucapku berapi-api pada kak siska yang tengah terduduk manis di kasurnya

“Gak mau ah dek, ehh dek, keluar dulu sana, kakak mau ganti baju, gerah nih.”

“Males ah kak, masih ngecas hp juga nih disini.” Wah ganti baju nih kak siska, aku tidak boleh menyia-nyiakan momen kali ini.

“Halaah kamu ini bisa ngecas di kamarmu kan, udah keluar sana.” Ucapnya sambil mendorong-dorongku dari tempat tidur agar aku keluar.

“Gak mau kakaaak, ini nih hp ku masih 50%, udah sih ganti aja napa disini ngapain malu juga sama aku.” Jawabku meyakinkan, agar ia mau ganti di depanku.

“Hmmm gimana ya dek, tapi kamu jangan ngintip!”

“Siap kak!”Sambil kuarahkan pandaganku ke layar hp ku, kucoba untuk membuka instagram agar suasana adikku cair. Akhirnya kak siska mau berganti pakaian dikamarnya dengan ada diriku di dekatnya. Dengan sedikit malu-malu kak siska melepas satu persatu kancing kemeja nya. Aku hanya bisa mencuri-curi pandang melihatnya, kancing demi kancing ia buka hingga kini terbuka semuanya. Dengan perlahan ia membuka baju nya pelan tapi pasti kini terlihat bra nya yang membungkus kedua bongkahan gunung kegemaran para lelaki. Ughh gede banget sih kak, ga ada bosennya dah ngeliatin tetek mu kak.

“Heh ngeliatin apaan kamu dek! Udah dibilangin jangan ngintip!” kaget aku terpergoki kak siska. Namun nafsu lelaki memang sangat tinggi, tidak peduli lagi aku terkena marah, yang penting sekarang aku bisa melihat kakakku ganti baju didepan mata ku sendiri. Selesai urusan dengan kemejanya, kak siska mengambil tanktop kegemarannya di dalam lemari, sehingga ia membelakangiku. Tampat dari belakang pengait bra nya yang berwarna putih itu seakan ingin kulepaskan saja, namun aku masih dapat menahan gejolak yang ditimbulkan nafsuku. Sekarang kak siska sudah memakai tanktop nya, namun masih ada satu yang belum dibuka olehnya. Yap, tidak lain tidak bukan adalah rok spannya.

Kak Siska :
Hidden Content:

Anda harus like agar dapat melihat konten ini.

“Dek keluar aja yah, malu nih kakak kalo yg rok ini.”

“Udaah gapapa kaak, ngapain juga malu sama arsyah, kan arsyah adiknya kak siska” jawabku agar ia tidak malu dengan adanya diriku di hadapannya.

“Iyaa deh iya, biar kamu seneng, kakak lakuin dah pokoknya.” Dengan berat hati kak siska akhirnya menuruti kemauanku. Diturunkannya resleting dipinggangnya, kemudian dengan perlahan-lahan kak siska menurunkan rok ketat nya. Rok ini sungguh ketat menurutku karena sangat fit sekali dengan pinggul dan bokong kak siska. Mulailah terlihat sebuah benda suci berwarna putih di balik rok kak siska. Celana dalam kak siska sukses membuatku ngaceng, sengaceng-ngacengnya.

“Astaga, ternyata seksi banget kalo Cuma pake celana dalam dan tanktop saja kak siska, itu juga tuh lekukan vaginamu kak keliatan banget, fix dah ini tembem pasti.” Gumamku dalam hati sambil menikmati sajian kakakku dihadapanku kali ini. aku membayang-bayangkan bagaimana bentuk asli dari vagina kak siska, kalau Cuma yang kemarin waktu selesai mandi itu masih kurang karena Cuma sekejap saja. Tapi kali ini, benar-benar lekukannya terlihat jelas vagina kak siska. Kak siska lalu buru-buru memakai celana pendeknya. Ahh, aku jadi sangat tinggi kali ini butuh pelampiasan, seketika itu kukeluarkan adikku dari sarangnya tanpa sepengetahuan kak siska yang sedang menaruh pakaian kotornya di belakan pintu. Perlahan-lahan kukocok naik turun secara berirama, nikmatnya onani ditempat ini lagi.

Cleek… cleekk… clekkk…

Begitulah suara yang kutimbulkan kali ini, mungkin penasaran dengan suara berisik dikamarnya, kak siska akhirnya berbalik badan menghadapku, dan…

“ARSYAAAAH!! NGAPAIN KAMU ONANI DI KAMAR KAKAK LAGI, BELUM PUAS APA YANG TADI MALEM!” ucapnya dengan terperanjat kaget melihat diriku beronani ria tanpa dosa dihadapannya.

“Ahh ad-duh kak, udah nanggung ini, arsyah gak kuat ngeliat kakak tadi.” Ucapku sambil terus mengocok penis ku di depan kakakku.

“Tuhkan, kakak tadi nyuruh kamu keluar ya karena hal ini nih.” Jawabnya dengan kesal sambil menunjuk-nujuk kearah kocokanku.

Cleek… cleekk… clekkk…

“Habis kakak juga sih yang cantik, manis, seksi pula, perfect deh buat kak siska, gaada yang ngalahin.” Kupuji kak siska seperti kecap nomor 1 agar ia membolehkanku mengeluarkan calon-calon presiden di kamar ini lagi.

“Halah dek gombal kamu itu, bilang aja kamu nafsu sama kakak sendiri, gausah bohong!” ucapnya dengan kesal kearahku

“Ahhhh iya sih kak, habis gimana yak, kakak itu perfect banget dimataku.”

“Tuhkan, adekku ini akhirnya ngakuin juga, kalo udah nafsu sama kakaknya, ngomong-omong kamu kok bisa sih dek nafsu sama kakak.” Ucapnya dengan kesal kearahku.

“Ehhh, it.. ituu kak gara-garanya.” Ucapku sambil menunjuk kearah kedua buah dadanya yang menggantung tertutupi oleh tanktop kegemarannya.

“Astaga adek! Jadi kamu selama ini, kalo liat dada kakak, kamu langsung jadi kaya begini, gak nyangka kakak.” Kak siska hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala atas kelakuanku ini.

Cleek… cleekk… clekkk… masih tetap kukocok naik turun penisku ini.

“Yyaa.. yyaaa habisnya kak, aku kan juga cowo normal, mana ada sih cowo yang tahan ngeliatnya.”

“Yaudah deh mulai besok kakak ga pake yang terbuka lagi di rumah, biar kamu ga ngeliatin mulu hihihihi.” Ucapnya sambil tertawa senang dengan pemikirannya yang bisa membuatku tidak bisa cuci mata lagi.

“Add.. duuh, jangan dong kak, gak seru jadinya.” Tolakku kepadanya agar ia mengurungkan niatnya tidak memakai yang blak-blakan lagi.

“Hihihi, dasar adek mesum! Eh dek kok itu belum keluar sih?”

“ahhh ga tau nih kak, tangan ku juga udah pegel ini.” ucapku dengan kata yang memancing-mancing kak siska.

“Aduuh kasiannya, tangannya capek ya pasti.” Kini ia mendekatiku dan mengelus-elus… tanganku. “Hihihihi mampu lu dek tanganmu capek.”

Cleek… cleekk… clekkk…

“Ahhh kak bantuin napahh, pegel nih tanganku kak.” Pintaku kepadanya, Semoga saja kak siska mau dengan wajah yang seakan sudah capek ini.

“Yeeee, males dah, itu kan urusanmu sendiri, wleeek.” Ucapnya sambil memeletkan lidah.

“Add… duuh ayolah kak, bentar doang ini.” Kuraih tangannya kali ini.

“Hiiiih dasar dah ini anak, kakak sendiri disuruh bantuin onani! Dah kamu berdiri sini dek, kali ini aja ya kakak bantuin, kasian ngeliat kamu udah capek.” Kini kak siska mendekatiku, kemudian dengan dengan malu-malu ia meraih adikku yang berdiri tegak. Dipegangnya kini tubuh adikku, mendapat respon seperti itu, kontolku semakin tegak berdiri mengacung mengarah ke kak siska.

“Ahh kak, baru dipegang aja udah enak ini, makasih ya kak, baiiiiiik banget deh.” Ucapku dengan pujian yang sangat tinggi kepadanya.

“Kalo bukan kasian, udah tak marahin habis-habisan kamu dek!” ucapnya dengan nada kesal, namun kali ini ia mulai memaju mundurkan adikku dengan tangannya. Posisiku saat ini berdiri, sedangkan kak siska berada dibawah dengan duduk bersimpuh pada lutut. Momen ini sangat tak terlupakan dibenakku, seorang adik berhasil membuat kakakknya membantu onani.

“Akkhhh kaak siskaaa, enak banget ini.” racauku memanggil nama kak siska yang dengan telaten ia mengurut-urut adikku.

“Enak banget ya dek, sampek matamu merem melek gitu hihihihih.” Tawanya yang centil itu seakan menambah efek ingin mengeluarkan cairan kenikmatan.

“Bangettttt kak, rajin-rajin aja yah kak giniin aku, hehehehe.” Bujukku secara gamblang kepadanya.

Cleek… cleekk… clekkk… tangan mulus nan mungil itu melingkar di batangku, mengasah dengan telaten seluruh tubuh adikku, mulai dari kepala hingga pangkalnya tak luput dari kocokan kak siska. Seperti ini ternyata rasanya dikocokin oleh cewek lebih enak daripada ngocok sendiri, apalagi kali ini cewe itu adalah kakakku sendiri, kak siska.

“Ahhh kamu mah, kalau dikocokin begini selalu pasti minta tiap hari dek, tar tangan kakak lecet ini hihihi.”

“Gap… gapapa kak, sekalian menambah pahala hehehehe.” Aku semakin tak kuat dengan siksaan nafsu yang diberikan kak siska terhadap adikku dibawah sana. Setiap aku memandang dibawah sana, ingin sekali aku rasanya langsung menjejalkan adikku ini ke mulut kak siska. Namun biarlah dulu, daripada aku gak jadi dapet servis darinya hahaha.

“Ahhh kak ennn..naaak ini, lebih enak dari ngocok sendiri kak.” Sebuah tanda-tanda sudah muncul, saatnya mengeluarkan benih-benih unggulanku. Ahh aku punya ide, kukeluarkan saja tanpa memberitahunya, biar dia basah peju ku kali ini.

“Hihihihi, dasar adek messs-“ dan croott…

“Ahhh… ahhh… ahhh… terima ini kaaaaaaak…” croott… crottt… croott, kutembakkan pejuku tepat dihadapan kak siska, wajah, dan dada kak siska penuh semua belepotan dengan cairan kental yang diproduksi adikku. Entah berapa banyak aku mengeluarkan barusan, yang pasti kak siska sudah belepotan pejuku.

“KKYAAAAAAA, ADEEEEEEEK KOK GAK NGOMONG DULU SIH, JADI BELEPOTAN KAN! NAKAL KAMU DEK!” ucapnya sambil matanya terpejam karena wajah cantiknya itu kini tertutupi oleh lelehan sperma kental.

“Astagaaaa, maaf kak, udah gak keburu ini tadi mau ngomong, habisnya keenakan sih.” Jawabku dengan berbohong agar ia tak bertambah kesal.

“ADUUUUH GIMANA INI, DEK AMBILIN BAJU KOTOR KAKAK DONG.” Ucapnya dengan setengah berteriak memerintahkanku. Segera saja ku ambil baju kotor kak siska, namun aku ingin mengerjainya lagi, kuambil celana dalamnya yang kotor tadi pagi saja hahaha.

“Nih kak.” Ujarku sambil menyodorkan celana dalam nya.

“Ihh kok kecil sih dek.” Tanyanya dengan curiga.

“Ohh itu tadi ada sapu tangan di saku celana ku kak, gapapa pake aja, biar nanti aku yang nyuci.” Akhirnya prank kedua berhasil juga. Lantas kak siska mengelapi muka yang belepotan spermaku itu dengan celana dalamnya. Ia tidak sadar bahwa yang ia pakai adalah celana dalamnya sendiri. Setelah wajahnya bersih dari segala bentuk peju ku, akhirnya ia membuka mata.

“AHHH GILA KAMU DEK! MASA KAKAK DI SURUH LAP PAKE CELANA DALAMNYA SENDIRI! BENER BENER KAMU HARI INI.” ucapnya dengan kesal sekali kearahku yang berhasil mengerjainya dua kali dalam hai ini.

“Hehehehe, gapapa kak, keliatan seksi loh tadi waktu belepotan spermaku kak.”

“Seksi, palelo kotak! Kesel deh kakak hari ini, udah disuruh ngocokin sampe tangan capek, pas waktu keluar malah diarahin ke wajah kakak jadi deh belepotan, terus minta baju buat lap malah dikasi cd kakak, bener-bener adek mesummmmm kamu dek!” ucapnya dengan kesal sekesal kesalnya terhadapku.

“Anggap aja ya kak itu bonus dari Arsyah dan untuk terakhir, terima kasih kakakku yang cantik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.