Ketika aku mendekati pintu, suara-suara yang gugup semakin terdengar lebih jelas. Mantan istriku, Wati, yang kuceraikan delapan tahun yang lalu sedang memberikan perintah-perintahnya pada seseorang. Aku mendengar suara tawa yang renyah dari putri bungsuku, Erna yang berusia sembilan belas tahun, dan protes dari kakaknya, Endang, sang pengantin wanita. Dalam usianya

Aku baru saja naik ke-kelas 2 SMP saat aku mulai merasa ada yang salah dalam diriku (saat menceritakan ini usiaku sudah 16 tahun). Sebagai sisiwi SMP aku termasuk anak yang pintar. Namaku Anisyah, panggilan sehari-hariku Nisyah. Aku lebih suka bergaul dengan teman yang diatas usiaku, dan aku punya teman akrab

POV Nining Pintu yang sejak tadi sedikit terbuka perlahan tertutup, begitu juga sebagian wajah Pita yang sejak tadi tanpa berkedip memperhatikan aksi yang aku, suamiku, dan Putri lakukan telah menghilang. Senyuman tipis terpampang di wajahku, senyum kebahagian. Bagaimana tidak, di pangkuanku saat ini tubuh mungil Putri sedang berkejat-kejat menahan nikmatnya

Pov Pita Beberapa hari ini kurasakan ada hal yang aneh yang terjadi dirumah ini. awalnya ku kira hanya perasaanku saja namun lama-kelamaan keanehan itu semakin menjadi. hari ini hari kelima aku ada dirumah setelah seminggu penuh berlibur bersama teman-teman kuliahku di pulau Bali. keanehan pertama yang kurasakan adalah kedekatan Putri

“Aduh jangan disini, mas..” “Sshh udah gak apa-apa.” Pria itu semakin bernyali menyingkap rok Margaret. Napas mereka berdua terdengar berat. “Gimana kalau nanti ada orang?” Margaret memasang raut khawatirnya. “Bibi kan udah kamu suruh ngelicin barusan, gak ada siapa-siapa disini. Via masih sekolah ‘kan?” Akhirnya Margarret merelakan tubuhnya digerayangi tangan

Salju berjatuhan turun dari tahta langit, butirannya membasahi puncak kepalaku. Sepanjang mataku memandang, pernak-pernik hiasan natal terpasang di setiap sudut kota. Pahatan es yang terbentuk indah terpajang disisi jalan. Keindahan tersebut ditambah oleh sinar benderang lampu lampion yang bergantungan malam itu. Gadis itu mengeratkan mantelnya, mengusap-usap bahunya dengan bersilang tangan.

“Vi…” Panggilnya gugup. “Ya, kenapa Gus?” “Sebenernya gue udah lama suka sama lo, cuma gue takut nyampaiinnya ke lo. Takut kalau perasaan yang gue pendem selama ini cuma gue yang ngerasain, dan sekarang…” Ia menjedakan kalimatnya sejenak. “Gue gak takut lagi, karena kita bakal berpisah disini. Kalau pun lo ga

Matahari mulai menyembul dari ufuk timur. Cahayanya menerpa tubuhku lewat celah tirai di jendela. Tidurku perlahan mulai terusik oleh hangatnya sinar pagi. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku tuk menghilangkan pandangan kabur. Bergerak duduk ditepi ranjang. Aku menyadari sesuatu yang baru.. Tubuhku entah mengapa pagi ini terasa ringan sekali ketika kugerakan. Apa yang

Pegal menyerang sebagian punggungku. Tumpukan perkakas diatas meja kerja menuntutku bekerja ekstra hingga larut malam. Rasa lelah kini menggerayangi sekujur tubuhku. Berjalan sempoyongan di sepanjang koridor menuju lahan parkir. Gedung kantorr sudah hampir tak berpenghuni. Hanya menyisakan beberapa petugas keamanan dan segelintir pegawai kantor yang lembur. Tiba di lobby utama.

Update 8. POV Putri “ohmmmmmm…” aku menggeliat saat terjaga dari tidur, Badanku rasanya letih sekali“hmmm…sudah jam 10 pagi” gumamku Sambil bermalas-malasan kududukkan badanku diatas tempat tidur. Bayangan penis besar papa kembali muncul dalam benakku, seolah mencoba mengingatkanku pada kegiatan terlarang yang aku dan papa lakukan tadi malam. “ya ampunn, kenapa