05.00. “Thunder feel the thunder.. Lightning and the thunder Thunder feel the thun-..” Tap, kumatikan alarm bersoundtrack Thunder milik Imagine Dragon. Ah masih jam 5 ini rupanya, alarmnya aja udah bangun, eh yang punya malah belum bangun, gimana sih kak siska ini. Karena tidurku sudah terganggu oleh alarm kak siska

Hari telah berganti dan sejuknya hawa di pagi hari menyambut setiap insan yang akan memulai kegiatannya. Termasuk aku juga yang kini telah bangun lebih pagi dari kemarin, entahlah kenapa kemarin aku merasakan ngantuk sekali hingga aku harus dibangunin kak siska karena kesiangan. Namun, pagi ini aku bisa bangun sendiri, karena

“Welkom tu mobail lejen.” “Faif seken tu thi enemi rich the betelfild, smes dem” Tiiin tiin… “Dek bukain gerbangnya.” Sayup-sayup terdengar suara kakakku yang baru datang diluar gerbang, menungguku untuk dibukakan gerbang. “Astagaaaa baru juga ini masuk map, udah keganggu aja sama si makhluk cantik itu, bodo amat dah ini

Kriiiiing Kriiiiing Kriiiiing….. “Syah bangun udah pagi nih” “Hoaaaemmmm iyaaaa dikit lagi nih, bentar napa” Kriiiiing Kriiiiing Kriiiiing….. “Syah bangun wooy, alarm lu matiin dulu, bikin berisik aja nih pagi-pagi kaya begini” Cklekkk… “Syah bangun lu, gila apa yah alarm sekeras gitu lu ga bangun bangun.” Wajah cantik nan rupawan

BAB. VII Terbukanya Sebuah Rahasia Pagi ini aku bangun lebih pagi, kulihat adikku masih pulas dengan tidurnya. Ku putuskan untuk membiarkannya, lalu aku bangkit menuju kamar mandi, lima menit kemudian aku keluar dan berganti pakaian untuk berolah raga sebentar di taman. Di taman aku bermain dengan willow dan pillow sebentar

BAB VI Kalah Taruhan “So apa yang Kakak ingin lakukan malam ini?” Adikku Ditta berbaring di tempat tidur saat aku baru keluar dari kamar mandi. Saat itu hari Jumat, dan kami baru saja pulang dari kuliah dan di rumah hanya ada kami berdua. “Ada beberapa hal sebenernya,” kataku. Aku berjalan

BAB V WAKTU DITTA TIDUR “Bangun, Ditta.” Aku keluar dari kamar mandi dan mendapati adik perempuanku masih. Aku mencolek bahunya. “Ayo, hampir waktunya untuk kuliah.” Dia tidak bergerak. Agak kesal, aku mulai menggoyangnya. “Ditta Bangun!” Dengan sedikit bergerak, dia mencoba berguling, tapi aku praktis menariknya tegak. “Jam berapa sekarang?” “Kamu

BAB IV Berbagi komputer Aku terbangun karena merasakan sesuatu yang tidak biasa. Biasanya bangun tidur aku bermalas-malasan sebentar, tapi hari ini ada sesuatu yang berbeda. Aku berbaring masih memejamkan mata, aku merasakan ada suatu sensasi yang kukenal, dan tahu apa itu, sensasi menggelitik diantara pahaku. Aku merasa celana boxer-ku sudah

BAB III Mencoba berteman lagi Aku terbangun di tempat tidur di samping adikku Ditta. Aku baru sadar kalau celana dalamku, sudah berada dilututku dari semalam yang telah, dan penisku yang tertidur, hanya berjarak beberapa senti dari adikku yang masih tidur. Aku membuka dan melihat noda kering bekas sperma di seprai.

BAB II The 2nd Day Aku masih terbayang jelas sekali kejadian semalam saat bersama adikku pagi ini ketika berangkat kuliah. Aku harus berbagi kamar dengan adikku ditta dikarenakan jendela kamarnya rusak karena hujan dua malam yang lalu. Kemarin, secara kebetulan kami berdua berhadapan dalam keadaan telanjang bulat di kamarku. Lalu